Pariwisata Nasional

Pada suatu saat di sebuah kereta antar kota (Sneltrein) Amsterdam – Rotterdam, ada pembicaraan antar dua manusia. Yang satu keturunan bangsa yang pernah dijajah (Indonesia), satu lagi keturunan bangsa yang pernah menjajah (Belanda). Ketika tahu bahwa kawan bicaranya ini dari Indonesia, sang Londo ini menyatakan bahwa liburan musim dingin berikutnya ia akan bertamasya ke Indonesia. Namun bukannya ke Jakarta atau ke Jawa melihat peninggalan budaya nenek moyang, tapi justru ke hutan (!). Ya, hutan Sumatera atau hutan Papua. Begitu  katanya. Karena mereka sudah bosan dengan kesumpekan industri. Mereka mencari sesuatu yang masih asli. Hutan. Maklum mereka sudah tak punya hutan.

Cerita di atas memang nyata terjadi, namun saya maksudkan sebagai suatu ilustrasi tentang APA yang wisatawan mancanegara cari di negara kita. Kita terbiasa beranggapan bahwa kita tahu apa yang orang lain inginkan. Sebagaimana orang tua selalu merasa tahu apa yang dibutuhkan anaknya. Ternyata berdasarkan beberapa studi kecil yang saya lakukan, secara umum pariwisata kita tidak memberikan devisa yang cukup besar karena kita terpaku pada keindahan alam saja. Sesuatu yang sudah secara alamiah kita warisi. Bahwa ada kelompok wisatawan mancanegara yang datang untuk bernostalgia pada negeri yang pernah mereka jajah, itu memang benar. Namun berapa generasi yang punya nostalgia ini akan bertahan?

Secara naluriah manusia manapun memang menyukai keindahan (alam). Tapi di belahan bumi mereka sendiri pun memiliki keindahan alamnya sendiri. Tak semua wisatawan mengumpulkan uang hanya untuk dihabiskan melihat dan memotret pemandangan semata. Pernahkah kita sadari bahwa Hongkong menjual komoditas perdagangan sebagai tujuan wisata. Begitu pula Singapura. Mengapa banyak orang kita berbondong-bondong ke Singapura atau bahkan Batam? Belanja!

Bandingkan income yang masuk. Orang melancong melihat pemandangan, menginap di hotel, transportasi, dan segala fasilitasnya, beli suvenir. Hanya itu. Atau orang melancong, menginap di hotel, transportasi, dan segala fasilitasnya, lalu belanja berbagai hal!. Jauh sekali devisa yang masuk. Bukan?

Apabila mendayagunakan perajin lokal untuk membuat suvenir, maka nilai tambah produk tersebut tidak besar. Dan pangsa pasarnya spesifik sekali. (Pasar) Tanah Abang di Jakarta misalnya, bisa kita sebut sebagai Minangtown. Untuk diketahui, perputaran uang yang terjadi di sana mencapai miliaran perhari! Domestik dan internasional. Perhatikan! Di sekitar Tanah Abang kini sudah mulai banyak orang Afrika yang bermukim di sana. Mayoritas dari mereka adalah pedagang (kemudian diikuti oleh para pengedar narkotika, juga berdasarkan intuisi bisnis mereka).

Hal ini dimulai dari para pedagang bangsa mereka yang kerap ke Tanah Abang. Dengan mukimnya mereka di sini, akan memudahkan mereka untuk melakukan perdagangan dengan negerinya, Di sini mereka berfungsi sebagai representative. Artinya, mereka sudah percaya kelangsungan pasokan di Tanah Abang, tapi juga sekaligus kurang percaya pada pedagang kita sendiri di sini untuk secara rutin dan berkesinambungan melakukan transaksi dengan negara mereka.

Tolong jangan dilihat bahwa wisatawan itu hanya orang kulit putih, atau Jepang, Korea, dsb. Pendeknya bukan hanya orang-orang dari negara dunia pertama saja. Kalau perlu, komisi pengembangan pariwisata (kalau ada) bisa bertanya langsung pada para pemandu wisata senior tentang karakteristik wisatawan berdasarkan bangsanya, serta kecenderungan mereka untuk berwisata. Atau survey ke kafe-kafe di yang banyak expatriatenya. Tanyakan apa yang menurut mereka menarik dari negara ini.

Jadi secara singkat, soal objek wisata, bukan hanya sekedar pemandangan alam (termasuk budayanya). Tapi juga sektor bisnis. Dalam soal alam pun, wisatawan cenderung menghindari objek-objek yang sudah “exploited”. Oke lah kita lihat Bali sebagai contoh kasus. Wisatawan asing sudah menjauhi Sanur karena terlalu tertata dan komersial. Mereka bergeser ke Kuta. Kuta berkembang hingga ada mal dsb. Di sini konsentrasi wisatawan terpecah. Sebagian yang berorientasi ke nature terus ke Legian (lalu menyeberang ke Lombok dst, dst). Sebagian lagi tetap di Kuta karena Kuta juga memberi ruang bagi industri kecil kerajinan untuk berkembang semarak. Tak lupa dengan berbagai bar, kafe, dan segala macam kebutuhan orang-orang asing itu.

Saya pernah bertanya pada seorang wisatawan yang kebetulan adalah pramugari Qantas. Saya tanya apakah ia tertarik/menyukai Bali. Ia jawab dengan heran, “Tentu saja”. Saya tanya lagi apanya yang menarik, ia jawab pantai pasir putihnya. Kemudian ia balik bertanya apakah saya menyukai Bali. Saya bilang tidak, dan ia tambah heran. Saya bilang bahwa di negara ini pantai pasir putih yang landai tak terhitung banyaknya, objek alam pun beraneka ragam. Apa pula yang harus dikagumi dari Bali, kata saya. Sebagai pramugari Qantas mestinya ia tahu bahwa di puncak salah satu gunung di timur pulau Bali dihiasi 3 kawah berdampingan dengan 3 warna air yang berbeda.

Di sisi lain, mengeksploitasi pariwisata takkan dapat mengesampingkan dampak akulturasi. Bali yang demikian ketat terjaga oleh adat pun telah lama kehilangan pamor budayanya. Dampak kapitalisme budaya tak dapat tidak merupakan dua sisi mata uang. Hal ini agar menjadi pertimbangan sendiri.

Kembali pada potensi alam yang tak terhitung banyaknya, itu semua tak ada artinya tanpa informasi terpadu serta sarana dan prasana yang bukan saja memadai tapi juga terjangkau. Ingat krisis ekonomi bukan hanya menimpa negara kita. Di Rotterdam, hampir tiap sudut jalan ada kios dengan lambang VVV yang menyolok. Apalagi di stasiun kereta dan bandaranya. Isinya berbagai informasi tentang objek wisata dan cara mencapainya, termasuk peta. Dan semuanya gratis. Padahal Rotterdam bukan kota budaya, melainkan pelabuhan terbesar di Eropa.

Sebagai kontradiksi adalah Bangkok. Setengah mati wisatawan asing di sana mencari informasi wisata. Mencari orang yang bisa bahasa Inggris saja susah. Kalau tak hafal logo grafis Coca Cola, bisa tak jumpa yang namanya softdrink itu sebab tulisannya berubah ke dalam huruf Thai. Namun pariwisata di sana luar biasa hidup, meski Bangkok bisa 3 kali lipat macetnya dibanding Jakarta. Hal ini karena pemerintah setempat memberi dukungan penuh pada sektor ini. Mereka menyadari pariwisata sebagai sumber devisa mereka. Bukan hanya dukungan retorik belaka. Dan mereka mendorong pihak swasta untuk mengelolanya.

Musium, adalah tempat yang menjadi salah satu ciri berbudaya tidaknya suatu kaum. Di Indonesia, semua musium sejarah dikelola pemda. Hasilnya? Dengan “kartjis” 500 – 1000 rupiah perorang, bagaimana bisa hidup kegiatan di sana? Seorang pejabat permusiuman bahkan pernah berucap bahwa dengan biaya murah saja orang enggan datang ke musium, apalagi jika mahal. Ini suatu bukti tiadanya pemahaman mengenai nilai-nilai kesejarahan. Konsumen tidak melihat murah atau mahalnya suatu produk, melainkan sebanding atau tidak nilai intrinsik produk tersebut dengan biaya yang dikeluarkan konsumen untuk memperolehnya. Dus, artinya pelayanan dan fasilitas yang baik akan sepadan bila diberi harga yang lebih tinggi. Ini semata-mata hukum pasar yang sederhana saja.

Musium Pusat alias Gedung Gajah yang berada di “ring satu” dan jadi barometer musium di Jakarta pun tak punya brosur yang komprehensif. Kalau kita sempat ke candi-candi di Jawa malah lebih parah lagi. Saya pernah kelabakan waktu ditanya umur dan sejarah suatu candi kecil di Singosari, Malang oleh kawan saya dari Kanada. Sementara di Sumatera Barat, setengah mati orang mendirikan Musium Buya HAMKA karena kekurangan dana.

Adalah absurd apabila bangsa ini ingin menggalakkan pariwisata tanpa mendukung penelitian-penelitian sejarah. Sejarah bukan semata sesuatu yang bersifat purba, namun segala informasi mengenai masa lalu adalah catatan sejarah. Buat wisatawan domestik tertentu mungkin objek-objek yang berlatar belakang hikayat dianggap menarik. Namun perkembangan jaman akan mengikis itu semua. Hanya situs-situs yang secara konkret punya catatan sejarahlah yang akan bertahan.

Saya pernah tertarik mencoba website yang dibangun Deparpostel (waktu itu). Alamak. Sangat tidak informatif. Oke mari kita ambil permisalan dengan Sumatera Barat. Asumsi ada wisatawan yang dari negaranya tertarik untuk datang melihat Danau Maninjau. Adakah mereka terbang menuju Jakarta, atau Medan? Lalu dari Jakarta atau Medan itu mereka naik pesawat apa ke Padang, berapa tarifnya, jadual penerbangan dalam sehari. Alternatif lainnya, dari Medan naik transportasi darat apa, dari stasiun/terminal mana, berapa biayanya, jadualnya, lama perjalanan, dsb. Sampai di Padang adakah informasi tentang akomodasi yang sesuai dan terjangkau. Transportasi lokal di kota Padang sendiri apa saja dan “rate”nya berapa.

Kemudian menuju lokasi wisata berapa jauh, adakah peta yang informatif, di mana saja bisa diperoleh informasi yang komprehensif dan akurat secara gratis dan ramah. Kembali lagi adakah akomodasi di dekat lokasi wisata. Adakah makanan dan minuman yang sesuai dengan standar hidup mereka (mereka tak mau minum sembarangan di negara dunia ketiga, tak seperti di negaranya yang bisa minum air keran secara langsung). Bagaimana dengan sarana telekomunikasi di lokasi wisata? Sarana perbankan? Segala hal ini harus termaktub dalam informasi yang akurat dan termasa (up-to-date) serta tersedia di banyak tempat yang mudah untuk didapat. Belum lagi acara-acara kesenian atau budaya lokal yang harus terjadual dan terintegrasi dengan musim-musim kunjungan wisata.

Gampang saja. Coba datangi secara acak salah satu biro perjalanan wisata di Jakarta. Adakah mereka punya data komprehensif tentang tujuan wisata di Sumatera Barat? Belum lagi kita harus klasifikasikan market kita berdasarkan karakteristik umum bangsa-bangsa, karakteristik khusus kecenderungan minat (pemandangan, budaya, alam bebas, bisnis, studi, dsb), karakteristik usia, mungkin pula gender, serta –barangkali yang paling penting- adalah kapasitas mereka dalam mengeluarkan uang mereka.

Tapi bagaimanapun juga saya berharap, jangan karena mengejar devisa adat dan budaya tergadaikan sebagaimana terjadi di tempat lain. Anak-anak muda berlomba belajar bahasa Inggris dan manajemen pariwisata, orang asing yang belajar adat dan budaya kita. Nanti lebih fasih orang luar berbalas pantun dengan bahasa tinggi daripada generasi kita mendatang.

Elok kah?

WalLaahu a’lam

copyleft umar syaifullah 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s