Kesadaran

Ternyata makin “modern” suatu kelompok masyarakat, makin meningkat pula kompleksitas masalah yang mereka hadapi.

Betapa kita sering membaca, melihat, mendengar, atau mengetahui begitu banyak manusia di sekeliling kita yang kebingungan menghadapi “drama” kehidupan ini. Lihat saja kehidupan bernegara kita, sebagaimana terberitakan di media massa. Pernyataan Gus Dur  ketika menjabat RI-1 bahwa kualitas wakil-wakil kita di DPR masih belum lulus SD bisa dijadikan tolok ukur sampai dimana tingkat kedewasaan kita dan kearifan kita melihat fenomena

Begitu pula kalau kita baca rubrik konsultasi psikologi di banyak media massa. Ternyata makin “modern” suatu kelompok masyarakat, makin meningkat pula kompleksitas masalah yang mereka hadapi. Akibatnya makin pusing dan bingung mereka, yang kemudian akan menyeret mereka ke jurang yang makin dalam atau ke labirin yang rumit. Lalu, bagaimana? Banyak jawaban bagi mereka dari “peradaban modern” ini: Alkohol, narkoba, barang-barang konsumeris, hiburan, dll yang semuanya hanya bersifat eskapis (melarikan diri dari kenyataan). Ada pula yang mencoba mencari jawabnya ke psikolog/psikater, konsultan, agama, sekte-sekte spiritual, dsb. Hasilnya? Makin sakit!

Kalau kita ambil asumsi bahwa fenomena di atas terjadi pada kelompok usia dewasa, sementara rata-rata angka harapan hidup manusia hanya berkisar di usia 70, apabila mereka menemukan apa yang mereka cari itu maka benarlah pendapat yang mengatakan “life begins at forty”. Kemudian, apabila awal mula pemahaman tentang “kehidupan” itu dimulai di usia 40, bukankah kita sudah “tekor” lebih dari separuh umur kita? Apalah artinya “life before forty”, lengkap dengan segala atribut gelar, pangkat, kekuasaan, harta, status itu?

Maka esensinya adalah Kesadaran (conscious) dalam arti bukan lawan kata dari pingsan. Penilaian plus atau minus terhadap hasil perbuatan adalah tanpa Kesadaran dengan K besar. Bagaimana manusia akan menjalani kehidupan yang sekejap ini tanpa mengerti esensi atau makna hidup itu?

Dalam Qur’an, Allah berfirman,

“Mereka hanya mengetahui lahiriah kehidupan duniawi, sedang mengenai (kehidupan) akhirat mereka sungguh lalai”. (QS. 30 : 7, Ar Rum)

Kesadaran adalah Kesadaran dengan “K” besar. Bukan merupakan kendaraan sekedar untuk dilap dan dipoles hingga mengkilat di garasi saja, melainkan untuk membawa si empunya. Sendirian atau bersama orang lain. Dengan Kesadaran, apapun yang ditemui atau dialami akan memberi nilai tambah (positif), tidak ada yang negatif. Itulah hikmah.

Maka setelah memiliki Kesadaran ini, pertanyaan kuncinya adalah “Lalu, apa?” atau “Lalu, kemana?” Ke mana pun dan apa pun yang dilakukan, si pemilik tidak perlu lagi khawatir. Surga dan neraka, malaikat dan iblis, pahala dan dosa adalah ciptaan Allah. Baik – buruk, senang – susah, bahagia – sengsara, gembira – sedih, kaya – miskin, semua adalah jalan menuju Allah (suluk).

Kesenangan yang tidak disertai Kesadaran membuat kita lupa pada Allah bahwa kesenangan itu hanya sesaat (fana) dan datangnya dari Allah jua. Hasilnya adalah kufur nikmat. Sebaliknya, yang Sadar akan mensyukurinya dengan bersedekah, menebarkan kegembiraan pada orang lain dan alam sekitarnya.

Adapun kesusahan yang tidak disertai kesadaran pun akan membawa kepada kekufuran. Berkeluh-kesah, menganggap Allah tidak adil, menganggap dirinya yang paling malang, tidak bersabar, apalagi tawakkal.

Allah berfirman,

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. 2 : 155, Al Baqarah)

Maka, mereka yang memiliki Kesadaran adalah,

“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, ‘Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kami kembali'”. (QS. 2 : 156, Al Baqarah)

Hasilnya, sebagaimana firman Allah,

“Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (QS. 2 : 157, Al Baqarah)

Karena sudah memiliki kendaraan dan tahu tujuan keberangkatannya, maka ia tak lagi punya pilihan atau keinginan lain. Apabila ia punya keinginan lain maka ia takkan sampai ke tujuan utamanya. Paling tidak, ia akan terlambat. Padahal tak seorangpun tahu kapan ia harus sampai di tujuan itu. Yang ada kemudian adalah keridhaan dalam menempuh perjalanan ke tujuan. Inilah yang disebut oleh Syekh Abdul Qadir Al Jailani dalam Futuh Al Ghayb, Risalah ke 55, sebagai keadaan ruhani terakhir yang dicapai oleh para Wali.

WalLaahu a’lam

copyleft umar syaifullah 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s