Hidup

Apakah hidup itu? Untuk apa kita hidup? Hidup yang seperti apa yang harus kita jalani? Bagaimana dengan hidup yang INGIN kita jalani?

Beberapa orang memang DIBERI keberuntungan untuk menjalani kehidupan seperti yang telah diimpikan, dirajut dan ditekuni sejak ia bisa berpikir. Keberuntungan ini pun tak sama satu sama lain. Ada yang memang mulus-mulus saja perjalanan hidupnya. Seolah tak mengalami kesulitan berarti. Namun ada pula yang harus bekerja keras, persistent, teguh memegang cita-cita, hingga akhirnya memang ia meraihnya dengan penuh kemenangan.

Di lain pihak, ada kelompok orang yang tak seberuntung itu. Tak beruntung? Benarkah demikian? Dalam konsep Islam, hidup ini pada bagian-bagian tertentu -justru bagian-bagian terpenting- DIKENDALIKAN oleh Yang Maha Kuasa. Pada salah satu rukun Iman dalam Islam, ada poin dimana kita harus percaya, yakin akan ketentuan Tuhan yaitu yang disebut Qadha dan Qadar. Secara garis besar Qadha adalah ketentuan umum, misalnya kelahiran, kematian, jodoh, dlsb. Adapun Qadar adalah ketentuan khusus kepada masing-masing entitas yang disesuaikan dengan waktu dan kesiapannya sendiri. (lih. Amatullah Armstrong, “Kunci Memasuki Dunia Tasawuf”, MIZAN, 1998). Secara gramatikal, Qadar sendiri adalah ukuran, takaran yang sifatnya subjektif dan personal.

Jika dikaitkan dengan Hari dimana seluruh makhluk diminta pertanggungjawaban atas hidup dan kehidupannya, maka timbul pertanyaan. Apa yang harus dipertanggungjawabkan jika Tuhan sudah punya ketentuan atas segala usaha dan jerih payah kita? Jika Anda seorang eksistensialis, apakah seseorang yang begitu lahir telah menerima warisan kekayaan miliaran dari orang tuanya bisa diminta pertanggungjawaban atas baik-buruknya kekayaan itu? Tentu tidak. Dus, yang menjadi esensi pertanggungjawaban adalah USAHA, upaya, jerih payah, dan apapun juga yang kita lakukan, terlepas dari hasil yang kita capai sesuai dengan ketentuan Tuhan di atas.

Ketika kita sudah berjerih payah melakukan usaha sesuai dengan pedoman (baca: syari’at agama) namun ternyata menurut ketentuan Tuhan 2 + 2 tidak sama dengan 4, maka yang dillihat kemudian pada Pengadilan Agung nanti adalah bagaimana kita menyikapi ketentuan tersebut. Adakah kita protes atau menerima dengan penuh kepatuhan seorang hamba pada Tuannya. Di sinilah ujian kepatuhan pada sang Pencipta.

Penjelasan ini tidak berarti bahwa ciptaan tidak punya kemerdekaan menentukan nasibnya. Ingatlah bahwa kemerdekaan TIDAK bersifat universal. Adakah bayi, anak kecil, remaja, dewasa, orang tua, jompo, orang cacat, atau bahkan orang gila, punya kemerdekaan yang sama? Kemerdekaan diberikan sesuai dengan waktu dan kemampuan mempertanggungjawabkannya. Adakah orang yang mampu memilih untuk tidak jadi anak kecil, jadi tua, jompo, cacat, atau gila?

Meski secara esensi, di satu sisi segala makhluk tidak punya kemerdekaan atas dirinya sendiri, namun di sisi lain tidak berarti bahwa kita tidak usah bertanggungjawab atas apa yang terjadi dengan diri kita. Walaupun kita harus menjalani hidup sebagai Sisiphus yang menggulirkan batu bulat mendaki gunung untuk kemudian menggelinding ke bawah, dan terus menggulirkan lagi ke atas, dan menggelinding jatuh lagi, akhirnya kembali ke pertanyaan esensi: untuk apa Anda hidup?

Kita mungkin masih ingat Cat Stevens, penyanyi dan pencipta lagu Morning has Broken yang tanpa disadarinya saat itu bahwa ia telah “memotret” ayat qauniyah. Tanda kebesaran Tuhan di alam semesta. Ketika ia sudah mencapai gerbang sukses sebagai artis, semua miliknya dijualnya dan hasilnya disedekahkan. Kemudian ia sendiri pergi ke Timur Tengah untuk belajar Islam dan menekuninya hingga kini. Tentu saja bekas manajernya menyumpahi sikapnya itu dan pendek kata Stevens sudah dianggap gila. Gilakah seorang yang meninggalkan harta duniawi yang kecil untuk mendapatkan harta yang lebih besar di akhirat? Itulah kisah sejati Cat Stevens yang kemudian mengubah namanya menjadi Yusuf Islam.

Sia-sia menurut Anda? Di sini tidak lagi perasaan kita yang menjadi tolok ukur. Lagi pula sejak kapan perasaan dapat dijadikan tolok ukur yang sahih dan bisa dipertanggungjawabkan? Suatu kondisi yang dialami oleh dua orang belum tentu menghasilkan perasaan yang sama antar keduanya. Baik kita simak ilustrasi berikut: si A berambisi untuk bisa melakukan lompat jauh sejauh 5 meter. Ternyata ia hanya mencapai 4,9 meter. Sementara si B cukup tahu diri dan tak menargetkan apapun. Ini tidak berarti B tidak berusaha sekeras si A. Hasilnya, 4,85 m.

Bagaimana perasaan mereka berdua? Tentu saja A kecewa berat. Pertama, ia tak mencapai targetnya, meski hanya kurang 10 sentimeter. Kedua, B yang jadi pesaingnya hampir menyamainya. Adapun B, cukup gembira dan bersyukur. Jika semula ia tidak menargetkan apa pun, namun ternyata hasilnya cukup baik dan hampir mengalahkan A.

Kalau kita kembali lagi pada pokok situasinya, telaah kembali apa yang menjadi tujuan hidup kita. Carilah sesuatu yang kekal dan takkan berkurang atau hilang dicuri. Akhirat lah jawabnya. Di mana kan kita cari dan dapatkan kebaikan yang kekal itu? Di dunia, tentu saja. Justru dunialah yang jadi ladang yang harus dicangkul, dibajak, disemai, dirawat, diwaspadai agar tidak diganggu oleh hama, dsb. Jika kemudian ada bencana alam, misalnya banjir, kekeringan, atau sebab-sebab alam yang berada di luar kemampuan kita untuk mencegahnya, maka kita bertawakkal pada Yang Maha Pencipta. Tak perlu risau, atau gusar. Kita mulai lagi mencangkul, membajak, menyemai, merawat, dst. Yakinlah bahwa sesuatu yang PASTI akan kita dapati kemudian di kehidupan akhirat kelak. Panen Raya! Insya Allah.

WalLaahu a’lam

copyleft umar syaifullah 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s