Antiklimaks Obama

Apa yang bisa kita cermati dari pelantikan terpilihnya Barack Hussein Obama sebagai Presiden ke 44 Amerika Serikat, Selasa (12/1/09) waktu setempat? Kiranya seluruh penjuru bumi yang menyoroti peristiwa tersebut sepakat bahwa beban yang amat sangat berat harus dipikul oleh seorang laki-laki ceking berkulit hitam ini. Bukan hanya beban dalam negerinya yang sedang terpuruk akibat krisis keuangan global, namun juga berbagai persoalan dunia yang mau tidak mau harus bermula dari Washington DC.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka menyoroti persoalan ini karena fokus blog ini adalah pada khalayak yang berbahasa Indonesia. Itu sebabnya saya tidak sepakat dengan Fatih Syuhud untuk menggunakan bahasa Inggris. Biarlah yang mampu berbahasa Londo melakukannya, karena terlalu banyak rakyat kita yang masih berada di bawah tempurung kelapa primordialismenya. Ini adalah suatu panggilan yang harus saya sambut. Upaya Perdana Menteri Djuanda pada periode Orde Lama untuk tidak menandatangani Perjanjian internasional soal hak cipta belum dimanfaatkan optimal. Pun demikian adanya dengan upaya Sutan Takdir Alisyahbana yang berupaya menerjemahkan buku-buku asing ke bahasa Indonesia. Namun soal penggunaan bahasa ini baiklah saya bahas di lain waktu. Kembali ke… laptop.

Banyak masyarakat Amerika terutama yang sudah berkorban dengan berdiri berjam-jam –bahkan berkemah- di udara dingin yang mencapai 0 derajat Celcius, terlihat kecewa atas pidato Obama. Di momen yang disepakati sebagai saat bersejarah bagi bangsa Amerika, mereka mengharapkan suasana yang emosional, mengharukan sekaligus mengobarkan semangat menghadapi situasi yang sedang memburuk ini. Mereka berharap bisa pulang dan punya cerita yang akan dikenang hingga cicit, canggah, wareng, hingga udeg-udeg. Ternyata mereka harus pulang nyaris dengan tangan kosong. Seolah peristiwa ini merupakan antiklimaks yang puncaknya telah terjadi saat pengumuman pemenang awal November lalu.

Pertanda buruk sudah terlihat ketika Joe Biden tersendat dalam mengucapkan ucapan sumpah sebagai Wapres. Luarbiasa ketika Obama pun dua kali tersendat. Yang pertama adalah memotong frase pertama sumpah yang belum selesai diucapkan John Roberts, Ketua Mahkamah Agung Amerika. Yang kedua beberapa detik tak mampu melanjutkan frase sumpah hingga John Roberts mengulanginya. Baca: KOMPAS

Pidato pertama selaku Presiden yang ditunggu-tunggu oleh dua juta orang yang berdiri dalam udara dingin menggigit menjadi antiklimaks. Rakyat Amerika yang menunggu kalimat-kalimat yang menyentuh emosi ataupun yang mengobarkan semangat terlihat menunjukkan wajah kecewa. Obama lebih mementingkan untuk berbicara pada berbagai pihak yang menunggu pernyataan-pernyataan yang bersifat kebijakan umum. Antara lain Obama bicara tentang pendidikan dan kesehatan bagi rakyat, perbaikan ekonomi dalam negeri.

Hanya ada dua hal yang lumayan memancing applaus –meski banyak yang ogah-ogahan. Pertama, ketika Obama bermaksud membangun semangat kerja keras rakyatnya dengan memuji bahwa etos kerja, kreativitas, maupun produktivitas bangsa Amerika tetap tinggi meski diterpa badai krisis. Kedua, ia menyatakan bahwa tidak ada yang tidak mungkin dengan menunjuk dirinya yang terpilih sebagai Presiden sebagai contoh.

Yang patut dikutip dari keseluruhan pidato tersebut adalah bahwa di bawah pemerintahannya, Amerika akan menjadi kawan bagi semua pihak. Inilah yang terjadi jika menghadapi harapan yang terlalu besar bagi seorang Obama.

Agak mundur dari pelantikan, Tim Obama menuai sukses melalui kesepakatan dengan Israel terkait dengan kunjungan Obama ke Israel beberapa waktu lalu. Di sana Obama mengatakan bahwa jika rumahnya diroket orang lain, tentu dia juga tidak tinggal diam. Pernyataan ini yang menjadi landasan bagi Israel untuk menggempur Gazah. Namun yang tidak muncul dalam kebanyakan pemberitaan adalah sebagai imbalan atas dukungan itu, Israel harus mundur dari Gazah saat pelantikan Obama. Penarikan mundur ini memberi kesan di seluruh dunia bahwa Obama mampu mempengaruhi Israel. Tak heran jika harapan terhadap Obama jadi melambung tinggi.

Kembali pada “pertanda”, Obama dilantik sebagai Presiden Amerika Serikat ke 44. 44 dalam aksara Cina berbunyi Si Si, yang artinya Mati Mati.

WalLaahu A’lam.

copyleft umar syaifullah 2009

Iklan

3 pemikiran pada “Antiklimaks Obama

    • thank’s 4 comin’. sebetulnya banyak. tapi belakangan saya kurang sehat dan ada beberapa hal di “darat” yg menyita konsentrasi saya. jadi ngutang dulu update nya. a.l. tentang perempuan dan parlemen, menuju hari pers nasional, dll. sekali lagi terima kasih atas perhatiannya. salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s