Siapa berani tunjuk hidung Pers?

Untuk kesekian kali kita saksikan kebodohan bangsa kita sendiri. Indikasi akan terjadinya aksi anarkis dalam demonstrasi sudah lama terlihat. Aksi-aksi demo di depan gedung DPR/MPR RI, aksi-aksi mahasiswa di Makassar, hingga demo-demo pilkada terutama di Maluku Utara, dll, semestinya sudah lebih dari cukup untuk jadi pelajaran. Apakah harus menunggu ada pejabat yang tewas dulu baru jadi perhatian? Bodoh sekali.

Sekarang semua media menyoroti peristiwa anarki di Medan yang menewaskan Ketua DPRD setempat. Masing-masing media maupun pengamat berebut bicara untuk saling tunjuk hidung pihak lain. Tak ada satupun yang menunjuk hidung sendiri dan melakukan introspeksi. Saat ini polisi dituding tidak melakukan tindakan pencegahan, ada pula mantan aktivis yang menuding pemerintah yang tidak peduli pada suara rakyat, bahkan ada yang menyalahkan para pendemo. Tidak lupa juga Pilkada dituding jadi penyebab, begitu pula pemekaran daerah dan otonomi daerah. Lebih fatalis lagi yang menyebut rakyat Indonesia belum siap untuk berdemokrasi.

Karena yang menyiarkan semua ini adalah media massa, lalu adakah yang menuding media massa (baca: televisi) yang punya andil terjadinya anarki di mana-mana? Bukankah ada etika untuk tidak menyiarkan materi yang dapat menjadi preseden buruk alias menjadi contoh bagi pemirsa? Semisal adalah tayangan kriminal baik reportase maupun film fiksi, ada aturan untuk tidak menunjukkan secara jelas proses kejahatan seperti cara mencuri, membunuh, dlsb. Meski mutilasi sudah terjadi sejak lama, namun begitu pemberitaan tentang Ryan memperoleh “rating” tertinggi, berturut-turut terjadi peristiwa serupa. Salah seorang pelaku juga mengakui terinspirasi dari pemberitaan tentang Ryan.

Dalam era globalisasi sekarang, media massa bertarung untuk meraih pemirsa terbanyak. Rating adalah sebagai suara Tuhan. Rating adalah pintu masuk bagi iklan. Maka berlomba-lombalah televisi untuk jadi yang tercepat dan ter”eksklusif” penayangannya. Eksklusivitas di sini artinya adalah “as hard, as violent, as bad, as it get”. Bukan hanya “bad news is good news”, tapi “hard news is good news” sekarang sedang “in”.

copyleft umarsyaifullah 2009

Iklan

2 pemikiran pada “Siapa berani tunjuk hidung Pers?

  1. Itulah reformasi yang kebablasan. Demokrasi yang salah kaprah berjalan tanpa arah. Rakyat hanya berharap esok hidup lebih baik tanpa hiruk pikuk demokrasi anarkhisme. Salam

    • arahnya sih sudah jelas. ya sesuai dengan “arahan” dari Paman SAM. bagaimana pun juga sudah bukan rakyat lagi yang bereaksi. alam semesta sudah bereaksi. kalau “mereka” yang memimpin (baik formal maupun informal) sudah menulikan telinga dari suara alam, ya tunggu saja kiamat. salam kembali.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s