Hillary Datang, SBY Siaga

Besok Hillary Rodham Clinton selaku Menteri Luar negeri amerika Serikat yang baru di bawah pemerintahan Barrack Obama akan menginjakkan kaki di bumi Indonesia. Sebuah sejarah baru bahwa Indonesia masuk daftar kunjungan luarnegeri petinggi AS segera setelah dilantik. Apa arti semua ini?

Kompas edisi Minggu (15/2) mengutip Hillary yang mengatakan, Asia memiliki kesempatan besar. Secara ekonomi, Asia memiliki Jepang, China, India, dan beberapa negara di Asia lainnya yang berkembang secara ekonomi. Di saat dunia sedang hiruk pikuk oleh kekacauan ekonomi, Asia berada dalam posisi yang lebih baik. Ini adalah sebuah kesempatan bagi AS dengan mengharapkan ekonomi Asia sebagai bumper ekonomi AS. Adapun Joe Biden di Munich, Jerman, pekan lalu mengatakan bahwa kebijakan luarnegeri AS harus dilengkapi dengan pendekatan sosial, budaya, dan tentu kekuatan sebagai pilihan akhir.

Dari kutipan di atas jelaslah misi yang dibawa oleh utusan Obama ke Jakarta besok. Dalam pada itu, Asia Foundation meluncurkan buku America’s Role in Asia pada hari Senin (16/2) kemarin di CSIS. Perlu kita simak juga nanti tentang Asia Foundation. Nah mumpung Sofyan Wanandi selaku Wakil Ketua Dewan Penyantun Centre for Strategic and International Studies (CSIS) menengarai bahwa agaknya pemerintah RI belum tergerak untuk memformulasikan keinginannya terhadap pendekatan AS ini, maka mudah-mudahan tulisan ini bisa memberi masukan.

Dari situs ini didapat keterangan bahwa The Asia Foundation adalah organisasi nirlaba, non pemerintah, yang bekerja untuk meningkatkan kerjasama di kawasan Asia Pasifik. The Asia Foundation didanai oleh kontribusi dari beberapa perusahaan, yayasan, perorangan dan organisasi pemerintah di Amerika Serikat, Eropa, dan Asia-Pasifik. Melalui program-programnya, The Asia Foundation membangun kepemimpinan, meningkatkan kualitas kebijakan dalam rangka mendorong peningkatan keterbukaan dan kesejahteraan bersama di kawasan Asia Pasifik. The Asia Foundation memulai programnya di Indonesia pada awal tahun 1955. Program yang utama adalah mendukung berbagai LSM dalam upaya untuk memperkuat basis dan hak-hak politik rakyat sebagai landasan untuk meningkatkan partisipasi mereka. Beberapa contoh kegiatan yang telah dibantu adalah:
1. Peningkatan partisipasi masyarakat dalam agenda politik nasional dalam perspektif penguatan masyarakat sipil dan hak-hak asasi manusia. Termasuk di dalamnya partisipasi perempuan.
2. Pemberdayaan usaha kecil dan menengah dengan menciptakan iklim kebijakan pemerintah yang lebih kondusif
3. Pengembangan mekanisme penyelesaian konflik dalam masyarakat, antara lain melalui lembaga arbitrase

Beberapa tahun lalu Hermawan Sulistyo pernah melakukan penelitian tentang kyai NU dan demokratisasi yang dibiayai oleh Asia Foundation. Hasilnya adalah peta yang nyaris telanjang memotret keberadaan kyai dan pesantren NU di sebagian besar wilayah Indonesia. Saya tidak heran jika kemudian terjadi banyak peristiwa yang ujungnya adalah delegitimasi kedudukan kyai dan pesantren. Contoh kecilnya ya kasus Syekh Puji, fatwa-fatwa MUI, film Perempuan berkalung Sorban, dlsb.

Kembali pada persoalan mengapa Indonesia menjadi penting bagi Amerika. Jepang, Korea, Cina, memang sudah jelas punya peran penting di Asia, khususnya di sektor ekonomi. Tapi Indonesia? Dalam hemat saya AS kini harus memperkuat pengaruhnya di bidang politik atas kawasan Asia Tenggara karena melihat ancaman dari China dan bangkitnya sosialisme di Amerika Latin semisal Venezuela, Kolombia dan Kuba. Kita ingat di awal kemerdekaan, Indonesia merupakan ladang rebutan antara kubu imperialis kapitalis Amerika dan kubu sosialisme baik Soviet maupun China.

Maka pemerintah RI harus waspada atas upaya “pendekatan” AS melalui ekonomi, sosial, budaya, dan tentunya kekuatan sebagai pilihan akhir sebagaimana dikemukakan oleh Biden di awal tulisan ini. Presiden SBY harus berhati-hati, ekstra hati-hati, agar jangan sampai masa depan bangsa ini di masa depan tergadaikan oleh All The President’s Men alias orang-orang di sekitarnya sendiri. Jika SBY mau menengok kembali bekal awal yang diberikan oleh rakyat yaitu menjaga negara dan bangsa melalui budaya, insya Allah ia akan bisa lalui dengan baik.

Di sisi lain sektor pendidikan juga harus diwaspadai. Apa yang sedang terjadi dalam pembangunan kebijakan pendidikan nasional ini direncanakan akan terhubung secara online dengan Amerika. Hal ini sesuai dengan program Obama juga yang akan memasang jaringan internet seluruh sekolah di Amerika.

Organisasi “kemanusiaan” internasional PLAN yang beroperasi di Indonesia sejak 1969 menyelenggarakan School Link Project (Kompas, 13/2) yang melibatkan 1000 pelajar dari 100 sekolah menengah atas di 13 negara. Meski dikatakan jaringan ini untuk mendiskusikan dan bertindak menghadapi perubahan iklim, namun bagi yang memahami internet dan sistem informasi akan jelas bahwa ini merupakan road mapping bagi rencana politik yang lebih besar.

Tiba-tiba saya teringat mpok Ani dan bang Madi di RRI tahun 1970-an.
“Merdeka!”
“Ampera!”

copyleft umar syaifullah 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s