Budaya Absurd!!!

Kita tidak terkejut dengan data 5.800 dari 7.400 cagar budaya kurang terawat (Kompas, 12/3). Pemerintah konon kurang dana untuk merawat. Cagar budaya (baca: peradaban fisik sebagai hasil kebudayaan dalam arti kata benda) rusak, lapuk, atau hilang belum kita tempatkan sebagai persoalan serius. Akar masalahnya terletak pada mindset kita. Kita telanjur menempatkan masa lalu hanya residu masa kini. (Kompas, Sabtu 14/3)

Candi Prambanan dan Borobudur telah tercoret dari daftar Warisan Budaya Dunia. Membangun Pusat Informasi Majapahit dengan merusak situs. Tak ada kata lain yang mampu menggambarkan tentang hal ini selain: “ABSURD!”

Lihatlah program-program partai peserta Pemilu. Adakah yang mengedepankan kebudayaan sebagai kekayaan bangsa ini? Kalaupun ada, sebatas retorika politik semata sebagaimana “jualan” tentang ekonomi kerakyatan. Orang-orang yang “katanya” pinter-pinter itu selalu mengedepankan kekuasaan daripada membangun bangsa dan negara.

Siapapun yang kita lihat di media massa maupun esok ketika masa kampanye tiba, selalu mengatakan, “Kalau saya/partai terpilih/menang, akan ….” Bagaimana ia akan mendapat amanat dari rakyat bila ia tidak amanah?

Saya tidak melihat adanya calon pemimpin ataupun partai yang amanah. Tak satupun yang melaksanakan program-program kerakyatan secara mandiri. Para pemenang Kalpataru maupun Eagle Award dan sejenisnya melakukan program-program konkret bagi rakyat tanpa kekuasaan dan modal finansial yang kuat. Lha, membuat MCK terpadu -di ibukota negara pula- saja harus didanai Amerika dan diresmikan Menlu Hillary Clinton. Betapa tak tahu malunya pejabat pemerintah kita.

Ini kan menunjukkan bahwa masyarakat kita tak mau peduli pada orang lain. Egois. Sibuk cari duit buat perut sendiri. Dari sekian banyak anggaran Pemda DKI (minimal 1 milyar rupiah perkelurahan ditambah lebih kurang 1 milyar dana PPMK perkelurahan) apakah tak mampu membuat MCK? Lho, ini ngomong apa kok ke MCK segala? Lha inilah BUDAYA kita sekarang. Ketidak-acuhan vs gotong royong, berorientasi pada hasil vs orientasi pada proses, egois vs peduli sesama, kekuasaan vs kemaslahatan.

Weleh weleh … Celaka duabelas. Peringatan Allah berupa tsunami dan bencana alam lain semisal gempa, banjir, lumpur panas, gunung meletus, topan, bumi merekah -semua terjadi hampir tiap hari di depan mata, di wilayah NKRI, kok ya tidak membuat para (calon) pemimpin bangsa ini sadar.

Kita ini bangsa yang amnesia. Lupa kacang pada kulitnya. Dulu tanah kita ini adalah tanah surga (Koes Plus), kini jadi tanah jahannam. Tanah neraka di mana penghuninya berteriak memikirkan nasibnya masing-masing.

Seorang pengendara BMW keluaran terbaru yang terjebak macet di jalur lambat Jl. Sudirman, Jakarta, berteriak melalui jendela, “Kalau mau bersepeda di Senayan saja, jangan menutup jalan”. Padahal hari Minggu, 22 Februari itu adalah Hari Bebas Kendaraan Bermotor. Mau kita apakan orang seperti ini? Hukum macam apa yang bisa menindak sikap arogan begini?

Apakah kita cukup bersabar menghadapi situasi seperti ini? Apakah kita mau kembali dijajah 350 tahun plus 3,5 tahun seperti dulu? Bukan kita tak mampu hadapi musuh, melainkan kita tidak mau peduli pada orang lain. Kita baru bereaksi jika diri kita yang terkena. Meski tetangga kita menderita, yang penting bersyukur bahwa hal itu tidak menimpa diri kita sendiri. Na’udzubillah. Tsumma na’udzubillah.

Demi demokrasi yang diinginkan oleh Amerika dan sekutunya, trilyunan rupiah dihamburkan sementara rakyat tetap jadi penonton. Menunggu recehan yang terlempar. Dalam situasi yang DICIPTAKAN demikian menekan ini, maka rakyat akan didorong untuk saling bersikutan memperebutkan remah-remah yang tak berarti. Lihatlah pembagian zakat, Imlek, dll. demi beberapa ribu rupiah rakyat kita harus menebusnya dengan nyawa. Ibu-ibu bahkan tega menggendong anaknya yang masih kecil demi mendapatkan keleluasaan dalam antrian, tanpa peduli resiko.

Rakyat sudah gelap mata. Air selokan di rumah Ponari pun mereka minum demi pengobatan yang murah. Demi cinta monyet, para ABG rela mempermalukan diri di depan kamera televisi. Juga demi bertemu sekejap dengan selebritas idola, rela berbuat apapun.

Siapakah yang mengambil untung dari itu semua? Industri media. Ya. Termasuk pers. Merekalah yang menangguk untung dari iklan yang masuk.

Merdeka!!!
Ampera!!!

copyleft umar syaifullah 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s