Anakmu Diasuh Bandar Narkoba

Sabtu (8/3) tadi siang,  seorang siswa SMP dan dua siswi SMK beserta seorang remaja putus sekolah digrebek warga di sebuah rumah kosong di Ponorogo.  Salah seorang siswi yang masih mengenakan seragam Pramuka tersebut ditemukan pingsan. Diduga karena mabuk akibat minuman keras dan kelelahan setelah disetubuhi. Saat tulisan ini diturunkan, mereka masih dalam pemeriksaan Satuan Reskrim Polres Ponorogo.

Miris? Dalam kelanjutan berita tersebut, disebutkan bahwa masyarakat pernah menggerebek pasangan pelajar di tempat yang sama. Oleh karenanya kemudian timbul pertanyaan, mengapa keempat remaja ini masih menggunakan tempat yang sama? Tentu tindakan warga patut dipuji dengan menggerebek dan menyerahkan keempatnya ke polisi. Namun alangkah baiknya jika hal itu tidak terjadi.

Nah. Bagi penggemar sepakbola Indonesia tahun 70-an, tentu sudah tak asing dengan nama Ronny Pattinasarani. Seorang atlet berdarah Maluku kelahiran Makassar yang berangkat dari tim PSM Makassar hingga menjadi kebanggaan nasional ketika terpilih dalam Asia Allstar tahun 1982, harus menghadapi “kartu merah” saat anaknya terperosok dalam jurang narkoba.

Dalam buku berjudul “Dan, Kedua Anakku Sembuh dari Ketergantungan Narkoba”, Yerry, anak kedua Ronny menuturkan bahwa awalnya seorang penjual minuman ringan di depan sekolahnya memberi sebutir pil yang katanya bisa membuat enak badan dan bisa asyik. Awalnya menolak, namun suatu saat karena rasa ingin tahu ia membawanya pil Nipam itu pulang. Yerry saat itu masih duduk di kelas enam SD di kawasan Rawasari, Jakarta Pusat. Ketika mencoba meminumnya, ternyata ia memang merasakan apa yang disebutnya sensasi baru. Pikirannya melayang-layang setengah sadar.

Yerry ketagihan, dan ia datang lagi ke penjual minuman itu. Kali ini ia harus membelinya. Sejak itu ia terjerumus ke dalam cengkeraman narkoba hingga SMU.

Miris? Silakan membaca bagaimana Ronny Pattinassarany harus mengorbankan karir cemerlangnya di sepakbola kemudian tunggang langgang mendampingi kedua (ya, kedua anaknya pemakai narkoba. Sejak dini) anaknya hingga mampu keluar dari jerat narkoba yang terkutuk ituDalam sakaunya bahkan kedua anak Ronny tersebut pernah mengadakan garage sale dan menjual barang apa pun yang ada di rumah. Termasuk sebuah rice cooker yang masih berisi nasi di dalamnya! Saat itu Ronny dan istrinya sedang berada di luar kota. Kini Yerry dan Benny menjadi duta Badan Narkotika Nasional untuk mengampanyekan pencegahan penyalahgunaan narkoba ke sekolah-sekolah, termasuk ke sekolah almamaternya di Rawasari.

Apa yang bisa kita ambil pelajaran dari kedua berita di atas? Ronny Pattinassarany dan istrinya jelas-jelas tidak menyangka bahwa lingkungan sekolah kedua anaknya telah menyeret buah hati mereka ke dalam sumur yang (nyaris) tanpa dasar. Begitu pula kiranya pada kasus di Ponorogo, sebuah kota kecil di Jawa Timur. Orangtua keempat remaja tersebut sangat boleh jadi tidak mengetahui bahwa anak-anak mereka menggemari minuman keras dan seks bebas di usia sekolah.

Gun Gun Siswadi dalam kapasitas sebagagun1i Direktur Diseminasi Informasi Badan Narkotika Nasional, mengatakan bahwa selain melakukan penyuluhan ke sekolah-sekolah, BNN juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai penangkal. “Menurut standar internasional, pencegahan narkoba itu basisnya ada di keluarga”, demikian ujarnya di sela Focus Group Discussion di Pondok Gede, Sabtu (22/2) lalu.

Dalam kesempatan yang digagas oleh Blogger Reporter Indonesia ini, disepakati untuk mendorong peran aktif para penulis blog atau Blogger dalam menyosialisasikan gerakan anti penyalahgunaan narkoba secara sinergis di bawah nama Indonesia Bergegas. Upaya ini kiranya dapat memperkuat komponen-komponen bangsa agar  Indonesia Bebas Narkoba Tahun 2015.

Zaman yang kini sangat bergantung pada teknologi informasi dan internet, tidak lagi membedakan kota besar seperti Jakarta dan kota kecil di timur pulau Jawa. Bebasnya tsunami informasi menggerus nilai-nilai kekeluargaan dan masyarakat kita tanpa ampun. Para orangtua sudah terseret pada budaya hedonisme yang bersendikan kapitalisme dan konsumtifisme.

Mereka lupa akan keseimbangan alam dan kehidupan yang telah ditata dalam budaya leluhur kita. Apalah lagi dengan agama yang kini juga sudah dicemari nilai-nilai hedonisme tersebut. Mereka yang berada di kelas menengah atas sibuk mengejar status dan ilusi “masa depan”. Sementara mereka yang di kelas bawah pun sibuk mengejar “keseimbangan” pengeluaran dan pemasukan yang dirasa nyaris muskil diraih. Ada pun para guru di sekolah sibuk mengejar “kuota” jam mengajar demi sertifikasi.

Maka apakah yang terjadi dengan anak-anak kita masa depan bangsa ini? Akankah kita mewariskan bumi dan segala isinya ini pada generasi yang lemah ini? Akankah kita akan menyerahkan anak-anak kita diasuh oleh bandar-bandar dan pengedar narkoba di depan mata kita? Andalah yang harus menjawabnya.

copyleft umar syaifullah 2014 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s