BPJS, Sehat Tapi Mencicil?

BPJS sudah mencanangkan tahun 2014 sebagai tahun Zero Problem, (foto: umarsyaifullah)

BPJS sudah mencanangkan tahun 2014 sebagai tahun Zero Problem, (foto: umarsyaifullah)

Minggu lalu seorang paman harus dirawat di rumah sakit karena perdarahan di lambungnya. Usianya sudah 76 tahun. Tentu hal ini membuat anak dan keluarganya khawatir. Mintuo (bhs. Minang) istrinya, nyaris tak mau beranjak dari sisinya. Anaknya menyuruhnya untuk pulang beristirahat agar digantikan anggota keluarga lainnya. Ia menolaknya mentah-mentah.

Mandi pun ia enggan dan jika tak dipaksa ia tak mau makan. Kekhawatirannya dilatarbelakangi oleh kisah berpulangnya adik sang paman bulan sebelumnya. Almarhum yang juga seorang dokter wafat di rumah sakit tanpa menunjukkan tanda-tanda. Beberapa menit sebelumnya sang istri baru saja menyuapinya. Setelah selesai menyuapi, istrinya melakukan shalat. Seusai shalat, perawat datang untuk melakukan pemeriksaan rutin.  Namun almarhum sudah tiada.

Pagi itu saya menjenguk sang paman di rumah sakit swasta besar milik sebuah universitas di Jakarta Timur. Ia terpaksa dikirim ke sini karena rumah sakit yang dekat dengan tempat tinggalnya sudah penuh. Bahkan kabarnya Rumah Sakit Umum Daerah pun penuh. Belum lag i kondisi RSUD yang kotor.

Malam sebelumnya, ketika saya mendapat kabar bahwa paman masuk rumah sakit, beberapa anggota keluarga sedang berada di PMI Jakarta untuk mencari darah transfusi. Agaknya malam itu persediaan darah B+ sedang kosong di Jakarta sehingga ketika donor dari keluarga masih belum mencukupi maka kekurangannya harus didatangkan dari Banten.

Sungguh memprihatinkan jika benar sebuah ibukota negara besar seperti Indonesia tidak memiliki cadangan darah yang cukup. Selain itu apakah tidak ada sistem antara jaringan institusi kesehatan di negeri ini sehingga keluarga pasien harus mendatangi PMI dan “berburu” darah sendiri? Tidakkah bisa dibayangkan sebuah keluarga yang tidak memiliki kendaraan sendiri harus menembus kemacetan “belantara” Jakarta demi mencari darah bagi keluarganya yang menunggu dengan was-was di rumah sakit? Sementara itu, tenaga medis di rumah sakit pun tidak dapat melakukan tindakan lebih lanjut karena ketiadaan darah.

Dalam kasus paman, syukur AlhamdulilLaah darah yang dibutuhkan dapat diperoleh. Mengingat yang terjadi adalah perdarahan di lambung, maka paman tidak diperkenankan makan dan hanya mengandalkan infus dan transfusi darah. Untuk infus dan pengadaan darah pasien harus membayar sendiri.

Ketika dokter datang untuk pemeriksaan siang itu, saya sengaja mendekat untuk mendengar dengan seksama. Atas pertanyaan dokter, perawat yang mendampingi mengatakan bahwa esok atau lusa pasien akan dipulangkan dulu dan dua hari setelahnya baru kembali ke rumah sakit untuk dilakukan tindakan “Gastros” (Gastroscopy) yaitu prosedur memasukkan selang ke dalam lambung untuk memeriksa kondisi lambung dan jika perlu “menambal” pembuluh-pembuluh darah yang pecah.

Yang menarik adalah perkataan perawat bahwa pasien harus dipulangkan dulu karena tindakan medis “Gastros” itu mencapai 2,5 hingga 3 juta rupiah sedangkan pasien berada di bawah tanggungan BPJS. Tentu hal ini membuat saya mengambil kesimpulan bahwa BPJS mempunyai batas/limit pembiayaan tertentu sehingga pasien harus dipulangkan dahulu.

Saya sendiri punya pengalaman saat berobat ke sebuah rumah sakit lain, juga di Jakarta Timur. Petugas administrasi rumah sakit menjelaskan bahwa jika saya melakukan pemeriksaan darah di laboratorium hari itu, maka pemeriksaan oleh dokter baru bisa dilakukan keesokan harinya. Apabila tetap dilakukan pemeriksaan hari itu juga, maka pengambilan resep harus dilakukan hari berikutnya. Hal ini dikarenakan adanya limit BPJS sebesar 500 ribu rupiah perhari. Dengan demikian tidak dapat dilakukan penanganan yang berkelanjutan akibat pembatasan ini.

Bagi saya ini hal yang absurd. Akibat pembatasan BPJS, pasien harus dipulangkan dulu dan masuk lagi kemudian. Sementara jika pasien yang pulang atas kemauan sendiri harus menandatangani formulir “Pulpa” alias Pulang Paksa. Konsekuensi Pulpa adalah pihak RS tidak bertanggungjawab jika terjadi apa-apa dengan pasien sekeluarnya dari RS. RS juga tidak mau menerima kembali pasien kecuali melalui rujukan puskesmas atau RS lain.

Sebuah stiker di kaca kendaraan dinas BPJS Jakarta Pusat. (foto: umarsyaifullah)

Sebuah stiker di kaca kendaraan dinas BPJS Jakarta Pusat. (foto: umarsyaifullah)

Dengan demikian, BPJS adalah upaya pemerintah dalam menyehatkan rakyatnya secara “mencicil”. Tentu saya takkan heran jika mendapatkan jawaban bahwa masyarakat harus bersyukur dengan adanya BPJS. Jika sebelumnya berobat ke RS sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat, maka kini seluruh lapisan masyarakat dapat menjangkaunya. … meski dengan cara cicilan.

Dalam pengamatan saya, masyarakat kita ini masih sangat kurang sadar menjaga kesehatan. Selama tidak ada keluhan yang mengganggu aktivitas hariannya, maka ia akan menganggap dirinya baik-baik saja. Apabila sudah ada gangguan apalagi berkelanjutan, barulah ia pergi ke dokter atau rumah sakit. Oleh karenanya, kedatangan masyarakat ke rumah sakit harus dipandang sebagai upaya dan harapan terakhir sehingga janganlah mengecewakan dengan pelayanan yang serba tanggung.

Di sisi lain tentu lebih penting meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan melalui penyuluhan secara intensif dan berkelanjutan di puskesmas serta benar-benar memfungsikan dokter keluarga. Dengan demikian keluhan sekecil apa pun bisa cepat direspon dengan baik. Hal ini akan memupuk kepercayaan masyarakat pada sistem mau pun instansi kesehatan yang pada gilirannya meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap kesehatan itu sendiri.

*)menyongsong Workshop Sosialisasi #JKN #BPJS Jakarta, 13-14 Agustus 2014

copyleft umar syaifullah 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s