Perajin Wayang Kulit dari kaki Gunung Slamet

Matahari sore sudah beranjak turun ke batas cakrawala, ketika kawan Billy mengajak saya ke ujung kompleks perumahan Bumi Tanjung Elok, Purwokerto Selatan. Rencana semula adalah untuk mengambil gambar gunung Slamet yang terlihat dari sana. Tapi di salah satu rumah di ujung jalan kompleks itu saya melihat ada seorang tua yang sedang melukis karakter wayang. Billy pun menawari saya untuk singgah.

Suwarso (63) sedang melukis karakter Bagong sebagai 'selingan' di antara kesibukannya menatah wayang kulit. (foto: umarsyaifullah)

Suwarso (63) sedang melukis karakter Bagong sebagai ‘selingan’ di antara kesibukannya menatah wayang kulit. (foto: umarsyaifullah)

Setengah hati saya melangkahkan kaki memasuki halaman rumah kecil itu. Billy memperkenalkan bapak ini sebagai penatah karakter wayang kulit yang membuat keengganan saya langsung sirna. Pak Suwarso namanya. Pensiunan PT Kereta Api Indonesia tahun 2007. Kini ia berusia 63 tahun.

Mengawali karir di Bumiayu, dan Karanganyar, ia sempat menjabat Kepala Stasiun di Karanggandul. Terakhir ia menjabat PPKA atau Pengatur Perjalanan Kereta Api di stasiun Purwokerto selama 17 tahun.

Ketika saya tanya sejak kapan mulai menatah wayang, jawabannya mengejutkan, “Dari kecil”. Saya tak banyak bertanya mengenai sejarahnya menggeluti penatahan wayang kulit, karena lebih tertarik pada apa yang ia kerjakan. Berbicara dengan orang tua semacam ini, jika kita ungkit sejarah masa lalu akan berlarut-larut dan akan banyak pertanyaan lain yang akan muncul di benak saya. Mengingat waktu yang sangat terbatas, saya fokuskan pada karyanya saja.

Suwarso memeragakan beberapa karakter wayang kulit yang telah ia selesaikan. (foto: umarsyaifullah)

Suwarso memeragakan beberapa karakter wayang kulit yang telah ia selesaikan. (foto: umarsyaifullah)

Karakter wayang yang dikerjakannya berkisar di angka 1 juta rupiah. Harga gunungan yang paling baru ia hargai 1,5 juta. Werkudara alias Bima satu juta. Sedangkan Janaka atau Arjuna hanya 600 ribu rupiah. Nakula – Sadewa masing-masing 500 ribu. Ada pun karakter punakawan hanya 300 ribu, namun jika menggunakan prada/warna emas bisa mencapai 500 ribu.

Ia mengaku tak kesulitan dalam pengadaan bahan baku untuk wayangnya. Kulit sapi sering dipesannya dari Gombong dan Yogyakarta melalui telepon.

Beberapa dalang tercatat sebagai pelanggannya, meski kadang hanya minta perbaikan wayang mereka. Dalang kondang Banyumasan, Ki Enthus malah pernah meminta pak Suwarso untuk bekerja khusus untuknya.

Sebuah pagelaran wayang lengkap membutuhkan 500 karakter wayang kulit. Tapi jika hanya sekedar bisa pentas saja cukup hanya 300 karakter karena kadang ada karakter yang mirip. Karakter Rama Wijaya misalnya, hampir sama dengan karakter Arjuna Sosrobahu.

Beberapa karakter wayang kulit yang sedang dalam proses pengerjaan. (foto: umarsyaifullah)

Beberapa karakter wayang kulit yang sedang dalam proses pengerjaan. (foto: umarsyaifullah)

Pak Suwarso mengatakan waktu pengerjaan paling cepat 5 hari. Untuk Gunungan atau karakter Kumbakarna bisa mencapai 1 bulan mengingat ukuran dan tingkat kerumitannya. Oleh karenanya harganya lebih mahal.

Suwarso
085867494778
Perajin Wayang Kulit

Jemari tua itu masih mantap menuliskan goresan tangannya di halaman catatan kecil saya. Sungguh beruntung saya bisa bertemu dengan orang-orang yang tetap tekun melestarikan tradisi budaya seperti pak Suwarso ini. Kami pun segera berpamitan karena adzan Maghrib telah berkumandang di kaki Gunung Slamet itu. Sekali lagi batallah saya mengambil foto gunung Slamet yang sedang batuk.

copyleft umar syaifullah 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s