Sang Pencuci Mukena

AS SALAAM, mushalla yang menjadi saksi kebaikan 'kecil' yang 'besar' artinya. (foto: Istimewa)

AS SALAAM, mushalla yang menjadi saksi kebaikan ‘kecil’ yang ‘besar’ artinya. (foto: Istimewa)

Ramainya kehidupan dunia, baik nyata maupun maya, benar-benar membuat orang begitu sibuk. Masing-masing sibuk dengan kegiatannya. Pekerjaan, rumah tangga, sekolah, politik, bahkan agama -sebagai ritual, pun menjadi alasan kesibukan.

Dunia kini sudah tak lagi berjarak. Internet dan media sosial telah menjadikannya transparan. Siapa pun kemudian sibuk membicarakan berbagai ‘berita’, baik yang dimuat oleh media massa mau pun status dan cuitan pelaku medsos di dunia maya.

Nyaris tak ada lagi rahasia di dunia maya. Rapat tertutup para petinggi negara mau pun urusan ranjang dan dapur rakyat jelata yang tak dikenal sebelumnya, jadi konsumsi publik dan mengundang celotehan ramai. Rahasia yang seharusnya ditutup rapat demi kemaslahatan telah ditelanjangi habis. Tak terkecuali pada kisah berikut ini yang terpaksa saya tuliskan untuk tujuan hikmah, dengan tidak menyebutkan identitas atau tempat kejadian namun benar-benar terjadi minggu lalu.

Sebuah sekolah menengah negeri di pusat kota Jakarta setahun lalu mendapat giliran renovasi gedung dari pemerintah. Kini sekolah itu sudah berlantai empat sesuai ‘standar’ dilengkapi dengan teknologi internet dan berbagai perangkat belajar/mengajar modern lain. Selain taman sekolah, lapangan olahraga, dan kantin, dibangun pula sebuah mushalla dua tingkat berkapasitas 200-an orang bagi kegiatan ibadah dan pelajaran agama Islam siswa siswi sekolah tersebut.

Sebagaimana di banyak mushalla dan masjid, di tempat ini juga disediakan mukena hasil sumbangan para orangtua siswa. Ada sekitar 40-an mukena di mushalla ini. Beberapa guru perempuan yang sering shalat di sini sering menemukan ‘lenyap’nya mukena-mukena ini setiap hari Sabtu siang. Pada hari tersebut sekolah selalu digunakan untuk kegiatan ekstra kurikuler siswa dengan binaan beberapa guru yang membidangi kegiatan siswa. Namun mukena-mukena itu selalu kembali bersih dan tersusun rapi pada Senin pagi berikutnya.

Kesibukan dan keabaian sebagaimana disebutkan di atas membuat hal ini tak menjadi perhatian. Masing-masing guru berfikir tentu ada yang mengelola dan mencuci mukena-mukena itu. Toh di depan sekolah ini ada laundry.

Sampai pada suatu hari tak berapa lama yang lalu, seorang penjaga sekolah memergoki pelakunya. Pelaku itu pun dipanggil oleh beberapa guru menanyakan apa yang dia lakukan dengan mukena-mukena tersebut. Ia mengatakan bahwa tiap Sabtu siang setelah siswa yang beraktivitas mulai sepi, ia diam-diam membawa pulang mukena-mukena itu untuk dicucinya, diberi pewangi dan disetrika licin. Senin pagi berikutnya sudah tersusun rapih di mushalla.

Ia sudah melakukan hal ini selama setahun tanpa ada yang mengetahuinya, karena memang ia tak ingin ada yang melihat. Ketika ditanya, ia hanya memberi alasan bahwa jika mukena-mukena itu kotor dan bau, anak-anak atau siswi mau pun guru perempuan enggan shalat di situ.

Ia seorang ibu yang berjualan gorengan di kantin sekolah, tinggal tak jauh dari situ. Anaknya juga bersekolah di tempat ini. Menurut guru, anak ini biasa-biasa saja. Tak terlalu menonjol di kelas. Ia hanya dikenal rajin shalat. Bahkan ketika bel belum berbunyi pun, ketika adzan sudah memanggil ia kerap minta ijin pada guru untuk melaksanakan shalat.

Saat ditanyai para guru, wajahnya terlihat kecewa dan tidak senang perbuatannya itu ada yang mengetahui. Hal ini ditegaskan dengan permintaannya agar peristiwa tersebut tidak dibicarakan dan diberitahukan pada khalayak yang lebih luas. Ia bahkan menolak ketika ada guru yang akan memberinya uang dari dana mushalla sebagai ‘upah’nya mencuci.

“Jangan bu. Jangan begitu. Saya cuma mau bantu anak-anak biar rajin shalat”, katanya. Tak ada ucapannya menyebut-nyebut dalil agama, atau mengharap pahala di akhirat, dan semacamnya.

Kesibukan kita di keramaian dunia telah membuat kita abai terhadap hal-hal ‘kecil’ di sekitar kita. Hal-hal yang membuat kita gagal paham bahwa masih ada orang-orang yang selama ini kita ‘abaikan’ justru melakukan kebaikan ‘besar’ demi kemaslahatan. Hal-hal yang gagal kita lakukan pada diri dan lingkungan kita sendiri.

 

copyleft umar syaifullah 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s