Amoroso Katamsi tentang Di Balik 98

DALAM konferensi pers seusai screening film Di Balik 98 (baca resensinya di sini), saya sempat mewawancarai Amoroso Katamsi, dokter Spesialis Kesehatan Jiwa yang purna tugas dari Angkatan Laut dengan pangkat Laksamana Pertama. Ia juga aktor gaek yang berangkat dari Teater Kecil bersama Arifin C, Noer. Ia memerankan tokoh Soeharto tiga kali termasuk Di Balik 98. Pertama kali ia memerankan Soeharto dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI (1984), kemudian di film Djakarta 1966 (1988).  Berikut petikan wawancara dengan pemeran Presiden Soeharto dalam film ini.

Amoroso Katamsi, pemeran Presiden Soeharto saat diwawancarai Blogger Reporter usai screening film Di Balik 98 di Djakarta Theater XXI (7/1/2015). (foto: umar syaifullah)

Amoroso Katamsi, pemeran Presiden Soeharto saat diwawancarai Blogger Reporter usai screening film Di Balik 98 di Djakarta Theater XXI (7/1/2015). (foto: umar syaifullah)

AK (Amoroso Katamsi) :    Kalau ini kan bukan film sejarah ya. Ini film cerita yang berlatar belakang sejarah…Ini film fiksi, tapi ada sejarahnya. Sejarahnya itu dimainkan oleh pemain-pemain yang memerankan tokoh tertentu. Bagi saya gak masalah karena tokoh yang saya mainkan itu karakternya tidak berubah.

US (Umar Syaifullah) :   Tapi agaknya yang ini nggak ada dukungan dari pihak Cendana pak ya?

AK :   Ya mungkin begitu, karena ini kan cerita yang tidak enak untuk keluarga pak Harto. Jatuhnya pak Harto di sini kan nggak enak. … yang saya tahu sepanjang saya shooting memang tidak ada keterlibatan keluarga pak Harto. Saya juga tidak tahu apakah waktu itu minta ijin. Dan memang tidak perlu karena memang bukan film tentang pak Harto.

US :   Apakah shooting di lokasi-lokasi yang sama?

AK :   Ada yang iya, ada yang tidak,. Seperti (di) Istana itu nggak masuk. Hanya di depannya saja. Gedung DPR iya. Sampai ke atas itu. Yang tentara itu, dapat pinjaman itu kan luar biasa.

US :  Sebagai seniman, apakah tidak merupakan alasan saja bahwa ini bukan film sejarah? Sementara mayoritas tokohnya adalah tokoh-tokoh yang nyata, bukan fiktif. Ceritanya juga tidak fiktif. Tidak ada modifikasi

AK :   TIdak sepenuhnya juga… Ini agak susah memang. Setengah-setengah ya. Peristiwanya peristiwa sejarah. Tapi bukan film sejarah dalam arti lengkap. Cuma spotting spotting saja kan. Sejarahnya adalah, bahwa di tahun itu ada peristiwa itu, itu betul.  Tetapi dimasukkan tokoh fiktif. Kalau film sejarah itu nggak ada tokoh fiktifnya pak. (Seperti film Serangan Fajar) itu bukan film sejarah. Itu kan film tentang sejarah film kebangsaan tapi bukan film sejarah. Eee… itu memang hampir film sejarah ya. tapi bukan film sejarah. Itu memang ada sejarahnya tapi bukan film sejarah.

US :   Jadi istilahnya apa? Tepatnya apa?

AK :   Kalau saya bilang film yang berlatar belakang sejarah. Menurut saya lho ya. Pendapat orang lain terserah.

Kontroversi tentang film sejarah atau bukan memang sulit untuk diambil garis tegasnya. Hal ini mengingat sejarah sendiri adalah versi pemegang kekuasaan. Dengan demikian, ketika terjadi pergantian kekuasaan akan berganti pula versi sejarah tersebut. Empat bulan setelah jatuhnya Soeharto, Menteri Penerangan Yunus Yosfiah menyatakan bahwa film Pengkhianatan G30S/PKI tidak akan lagi menjadi bahan tontonan wajib. Alasan adalah adanya upaya untuk memanipulasi sejarah dan menciptakan kultus terhadap Soeharto.

US :   Kok banyak detil yang tidak sesuai ya?

AK :   Saya terlibat di dalamnya. Jadi kalau saya terlalu banyak (mengritik) nanti gak enak. Tapi memang detilnya kurang digarap dengan bagus. Terutama sekali detil yang realistik ya. Seperti tentara. Kalau jenderal-jenderal rapat, itu tidak akan kemudian semua berdiri (memberi hormat) “Siap Grak”. Gak ada. Panglimanya datang ya duduk saja. Cuma sikap (duduk) sempurna. Jadi penasehat tentaranya itu seorang bintara yang tidak pernah melihat Pati (perwira tinggi). Saya sendiri kan cuma pemain. Saya paling banter kan ngomong, “Ini nggak tepat”. Kalau saya (sebagai) penasehat militer, setiap shooting harus saya lihat.

Di awal wawancara Amoroso juga membenarkan bahwa rambut wig yang dikenakannya sebagai Presiden Soeharto terlalu tebal, tidak sesuai dengan karakter aslinya yang tipis.

copyleft umar syaifullah 2015

Iklan

2 pemikiran pada “Amoroso Katamsi tentang Di Balik 98

  1. Pak Amoroso Katamsi berarti tidak dilibatkan dalam penelitian film dan mengkoreksi detail? Nah sepertinya ini kesalahan mendetail karena Pak Amoroso adalah tokoh senior yang sedikit banyak tahu sejarah…

    • Ada kelemahan yang sering terjadi di film kita yaitu riset dan manajemen. Bagaimana pun saya punya harapan bahwa perfilman kita akan terus semakin baik. Sudah ada beberapa tenaga ahli kita yang notabene masih muda, terlibat di industri film Hollywood.Pun ada beberapa yang sedang menimba ilmu di sana. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke tanah air untuk menularkan ilmu mereka di sini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s