[Film] Di Balik 98 (2015)

Film Yang Tidak Jelas

Poster resmi Di Balik 98 (sumber: http://t.co/zkkKpAO0QS)

Poster resmi Di Balik 98 (sumber: http://t.co/zkkKpAO0QS)

 

SEBAGAI upaya promosi, film ini lumayan memancing perdebatan di media sosial. Mantan aktivis 98 yang kemudian ‘berhasil’ menjadi anggota DPR, Adian Napitupulu punya andil ‘mengompori’ pro kontra tentang film ini.

Dalam konferensi pers seusai screening di Djakarta Theater XXI, Rabu (7/1) lalu, Lukman Sardi selaku sutradara terlihat menghindari pertanyaan Blogger Reporter soal keterlibatan Wiranto dalam film ini. Lukman sekali lagi menegaskan bahwa film ini BUKAN film sejarah, melainkan drama yang berlatar belakang sejarah.

Masih belum jelas apa yang ingin diraih oleh MNC Pictures dengan membuat film ini. Jika sejarah lengsernya Soeharto hanya sebagai latar belakang, nyatanya film ini dominan menampilkan kisah pergolakan 98 lengkap dengan footage dokumenter. Demikian pula jika dimaksudkan sebagai drama, konflik yang ingin ditampilkan tak jelas fokusnya.

Berikut trailernya:

 

Drama

Di satu sisi memang ada seorang perempuan staf rumah tangga istana yang bersuamikan seorang tentara. Sang istri mempunyai seorang adik perempuan aktivis mahasiswi yang sangat vokal dan sangat membenci pemerintahan Orde Baru serta militer. Aktivis ini memiliki pacar keturunan Tionghoa yang juga aktivis. Ada juga seorang pemulung dan anaknya.

(ki-ka) Fauzi Baadila, Donny Alamsyah, dan Chelsea Islan. Mahasiswa - militer, atau kakak ipar - adik ipar? (sumber: http://t.co/TjwBNYNg4Y)

(ki-ka) Fauzi Baadila, Donny Alamsyah, dan Chelsea Islan. Mahasiswa – militer, atau kakak ipar – adik ipar? (sumber: http://t.co/TjwBNYNg4Y)

Agaknya semula Lukman ingin membuat sebuah drama kemanusiaan di seputar keenam tokoh ini dengan bingkai peristiwa 98. Namun sayang niat ini tak kesampaian karena tenggelam dalam hiruk pikuk peristiwa sejak Trisakti, Semanggi, kerusuhan Mei, pendudukan Gedung DPR/MPR, dan turunnya Suharto dari singgasana kekuasaan selama 32 tahun.

Daya tarik kesejarahan 98 rupanya membuat Lukman Sardi khilaf sehingga memberi porsi terlalu besar sebagai latar belakang sehingga latar depan persoalan yang diangkat menjadi kabur. Ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi Lukman Sardi dalam debut perdananya menyutradarai sebuah film layar lebar.

Lukman seharusnya memahami bahwa film adalah media visual sebagaimana fotografi. Dalam sebuah karya foto ada yang namanya Point of Interest (POI). Ketika suatu objek yang ingin kita tampilkan berada di depan latar belakang (background/BG) yang demikian ramai, semestinya latar itu dibuat blur atau bokeh agar yang melihat karya tersebut tidak gagal fokus.

Kadang BG yang ramai bisa ditampilkan tanpa blur jika fotografer mampu menata komposisi yang apik sehingga antara POI dan BG menjadi selaras dan saling menguatkan. Hal ini tidak terjadi pada film Di Balik 98. Apalagi film tersebut memiliki POI jamak yaitu 3 pasang subjek.

Sejarah

Di sisi lain, asumsi ini adalah film sejarah juga kedodoran. Mahasiswa hanya jadi pemeran figuran dalam panggung sejarah 98. Sementara yang digambarkan sesungguhnya adalah para politisi, tokoh masyarakat/Islam dan orang-orang di sekeliling Suharto yang memegang peran penggulingan kekuasaan, utamanya Harmoko sebagai pemegang kunci. Tak ada rapat mahasiswa atau konsolidasi antara kelompok mahasiswa dengan militer mau pun elit politik dalam menggulirkan gerakan ini. Para tokoh yang tampil sekilas dan tanpa dialog saja diberi keterangan nama dan lembaga yang diwakilinya. Adapun mahasiswa hanya ditampilkan logo universitas Trisakti. Tak ada FKSMJ, KAMMI, Forkot, Famred, dan lain-lain. Boleh jadi Adian Napitupulu akan ‘sengit’ ketika menonton film ini.

Sungguh aneh jika di beberapa bagian disisipkan footage dokumenter peristiwa 1998, namun pidato pengunduran diri Suharto tidak menggunakan footage. Begitu pula foto-foto keluarga Suharto dipaksakan menggunakan pemeran yang mirip. Jika memang hanya sebagai latar, tak ada perlunya segala detil itu. Hasilnya malah mengganggu alur cerita. Secara umum bahkan tak perlu ada pemeranan tokoh-tokoh sejarah, karena hanya cukup diganti oleh footage yang kiranya mudah dan banyak ditemukan di stasiun-stasiun televisi. Dengan demikian ada batas yang jelas mana latar belakang dan latar depan film ini.

Detil dan karakter

Penggarapan pun amburadul. Meski atas pertanyaan saya, Lukman Sardi mengaku telah melakukan riset pustaka dan penulis naskah juga menyatakan melakukan riset wawancara, namun banyak detil adegan yang membuat saya tidak nyaman. Kecerobohan dalam banyak detil adegan membuat saya bertanya-tanya adakah ini film realis atau komedi? Dalam soal detil-detil ini, Amoroso Katamsi mengakuinya. (Baca wawancara dengan Amoroso Katamsi di sini)

Rambut wig yang dikenakan oleh Amoroso Katamsi sebagai Suharto sangat janggal karena di bagian belakang terlihat seolah Suharto berambut tebal dan gondrong, tidak tipis seperti aslinya. Demikian pula foto Tien Suharto serta pemeranan SBY oleh Panji Pragiwaksono malah mengundang tawa penonton screening. Belum akting Asrul Dahlan sebagai Sintong Panjaitan sangat tidak mencerminkan ketegasan seorang prajurit Kopassus, atau memang ini disengaja? Begitu pula Agus Kuncoro yang memerankan BJ Habibie, aktingnya malah komikal.

Di antara babak belurnya film perdana Lukman Sardi ini, akting Chelsea Islan yang memerankan Diana -sang aktivis mahasiswi- sungguh sangat menjanjikan. Saya sering menilai kualitas akting melalui sorot mata. Dalam film ini -untuk adegan demo dan khususnya saat berhadapan dengan kakak iparnya, Letda Bagus di lapangan- Chelsea sangat mampu menghidupkan karakternya. Namun ia agak kurang dalam adegan-adegan mesra dengan pacarnya yang Tionghoa.

Donny Alamsyah juga bermain cukup bagus. Didukung oleh postur tubuhnya, Donny saya nilai cukup berhasil menghidupkan sosok prajurit Angkatan Darat dibandingkan Fauzi Baadila.

Tokoh pemulung dan anaknya malah sama sekali tak jelas posisinya dalam kisah film ini. Beda halnya ketika kita ingat kembali film Serangan Fajar (1981). Tokoh anak, Temon yang mencari bapaknya justru sebagai bingkai bagi peristiwa sejarah.

Rekomendasi: ♥♥♥♥

Bagi saya, nilai tertinggi dari film ini adalah soundtrack dari Saint Loco, Di Balik Pintu Istana.

copyleft umar syaifullah 2015

Iklan

7 pemikiran pada “[Film] Di Balik 98 (2015)

  1. dari baca ulasan Bang Umar ini, jangan2 sutradara baru Indonesia itu yg penting bikin film dulu buat trac recordnya, urusan kualitas belakangan sama kayak penulis pemula yang buru2 buat buku sendiri tanpa harus berlelah2 proses…

    • Agaknya ini ada hubungannya dengan latar belakang film ini: Reformasi 98. Dahulu (jaman Orde Baru) tidak sembarang orang bisa jadi sutradara. Seorang baru ‘diperbolehkan’ jadi sutradara setelah menjalani jenjang profesi bertahun-tahun sebelumnya. Itu sebabnya saat itu hanya segelintir sutradara, seimbang dengan jumlah produksi film. Kini jenjang ‘karir’ semacam itu tak ada lagi. Siapa pun relatif boleh jadi sutradara sepanjang ada produser yang mau mendanai pembuatan filmnya.

    • Ha ha. Saya memang cenderung serius. Becanda pun saking seriusnya suka dianggep serius 😀 Terima kasih sudah mampir.

  2. Saya mah ga sempet nonton film ini dan entah gimana, kurang tertarik aja. Padahal tahun segitu juga sempet nyaksiin temen dan senior di kampus berorasi ikutan long march (ga panjag juga sih) dari kampus ke gedung sate.
    Sayang, ya. Film ini kurang berhasil dan masih kalah heboh sama film romance 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s