Absurd, Kopdar Guru – Blogger

MINGGU pagi 15 Maret 2015 menjelang pukul 7. Jalan Sudirman – Thamrin yang merupakan jalan utama di ibukota republik ini sudah disesaki orang untuk menikmati Car Free Day. Simbol-simbol olahraga bertebaran di tempat ini seakan orang bisa berolahraga hanya pada hari Minggu dan hanya di tempat ini. Anehnya atmosfer yang saya rasakan justru bukan olahraga melainkan rekreasi dan hiburan!

Tak ada “FunBike” melainkan “TuntunBike” di sini karena saya harus berkali-kali berhenti mengayuh dan turun menuntun sepeda saya saking padatnya khalayak. Orang-orang berbusana olahraga dan santai menutup jalan. Anak-anak perempuan berjalan bergerombol mengenakan celana super pendek dan kaos ketat membungkus dada yang mulai tumbuh membusung. Tante-tante berbusana olahraga keluaran butik ternama berjalan sendiri sambil menuntun anjingnya. Om-om berkacamata hitam mengenakan celana olahraga berwarna pink dan kaos polo yang membungkus otot loyo berkulit pucat tanda jarang terkena matahari. Anak-anak remaja dari kampung-kampung pinggiran Jakarta duduk bergerombol di sempadan jalan jelalatan dengan matanya yang takjub pada pemandangan yang berlalu lalang di hadapan mereka.

Hampir sepanjang jalan berjajar penjual makanan dan minuman. Bahkan di beberapa tempat khusus dialokasikan untuk para pedagang kuliner ini. Sekelompok orang melakukan sosialisasi isu-isu yang menurut mereka penting untuk diketahui dan didukung oleh masyarakat. Kelompok perempuan berjilbab kompak meneriakkan syariah. Sementara di dekat air mancur, kelompok LGBT membagi-bagikan bunga dan secarik kertas minta dukungan. Tak jauh dari situ, lebih banyak lagi yang asyik bersenam aerobik dengan iringan musik yang berdentam-dentam. Para pendukung Ahok, sang gubernur pemberang, berunjuk rasa persis di sebelah kelompok penentangnya. Tanpa ada perselisihan.

Pesepeda dengan segala kostum dan perlengkapan yang lebih mahal dari pengguna sepeda motor datang dari segala penjuru. Tak semuanya tentu. Sebagian menurunkan sepedanya dari mobil mewah yang diparkir tak jauh dari bundaran HI. Ada pun kelompok-kelompok sepeda ontel yang datang dari pinggiran kota sudah lebih dulu tiba di lokasi.

MEMBIDIK momen. (foto: umarsyaifullah)

MEMBIDIK momen. (foto: umarsyaifullah)

Saya sibuk berliak liuk mengendarai sepeda menembus kepadatan manusia menuju utara. Gedung Indosat di ujung tenggara lapangan Monas adalah tujuan saya pagi itu. Di sana ajang pertemuan yang disebut Kopi Darat Akbar Guru Blogger Nasional diselenggarakan oleh Komunitas Sejuta Guru Ngeblog.

Sekitar pukul 8 itu baru terlihat sekitar 50-an orang di lantai 4 gedung. Dua jam kemudian barulah kapasitas kursi hampir dipenuhi peserta. Dari 400 undangan lebih, mungkin yang murni berprofesi guru tak mencapai 100. Sisanya adalah blogger. Ada juga kelompok siswa (!) Ini memang acara yang paling absurd yang pernah saya hadiri. Mengapa demikian?

Absurd

Jalinan acara hari itu tidak jelas subjeknya, Guru ataukah Blogger? Para motivator yang tampil memang jelas guru. Namun motivasi yang disampaikan dengan penekanan agar para guru ‘ngeblog’ jelas salah sasaran karena mayoritas hadirin adalah blogger dari berbagai komunitas. Hal ini jelas terlihat ketika pengumuman lomba ‘live blogging’ di penghujung acara. Blogger praktis menyapu bersih 5 smartphone yang menjadi iming-iming. Kebetulan saja jika salah satu pemenang utama adalah guru, karena ia juga seorang blogger yang sudah cukup lama malang melintang dari lomba ke lomba.

PAKAR internet yang "termarginalkan". (foto: umarsyaifullah)

PAKAR internet yang “termarginalkan”. (foto: umarsyaifullah)

Di sisi lain, tidak jelas siapa tuan rumah kegiatan ini. Komunitas Sejuta Guru Ngeblog, Ikatan Profesi Guru Indonesia, Komunitas Guru Era Digital, Relawan TIK, Blogger, ataukah Indosat? Saya hanya mengikuti arus kehebohan dari satu acara ke acara berikutnya yang sulit saya temukan benang merahnya. Saya coba mereka-reka. Banyaknya seragam biru bertuliskan TIK mau pun yang tak berseragam, mungkin terkait dengan salah seorang ‘tokoh’ guru di balik KSGN dan IPGI yang notabene adalah guru TIK di Labschool.

Dari ‘blusukan’ yang saya lakukan sebelumnya, saya menangkap kesan bahwa acara ini sebenarnya bermula dari Kongres ‘Nasional’ IPGI yang baru lalu diadakan di sebuah ruang di Universitas Negeri Jakarta. IPGI adalah sebuah organisasi profesi baru bagi (utamanya) guru-guru non PNS meski tidak menutup kemungkinan bagi guru PNS untuk menjadi anggotanya. Karena dua penasehatnya adalah juga blogger dan yang seorang adalah guru TIK maka baru jelas bagi saya mengapa kegiatan ini didominasi oleh blogger dan praktisi TIK.

Okelah soal hadirin. Tapi apa hubungannya dengan Jurnalisme Selfie/Tongsis? Ini jelas acara ‘tempelan’ saja. Adapun Onno W. Poerbo yang coba sosialisasikan ‘online learning’ justru ditempatkan di akhir sehingga malah tenggelam oleh kehebohan acara sebelumnya. Mungkin materi penting Onno hanya bisa diserap oleh komunitas TIK dan beberapa hadirin yang punya kepedulian terhadap pendidikan. Dari sini jelas bahwa ‘target audience’ yang disasar ketiga motivator di awal acara takkan mampu mencerna materi Onno Poerbo tersebut.

Di antara yang 'absurd'. (foto: umarsyaifullah)

DI ANTARA yang ‘absurd’. (foto: umarsyaifullah)

Ndilalahe, seorang blogger dari Cirebon kemudian menulis ‘sindiran’ halus yang langsung dikirimkannya ke ‘live blogging’ di akhir acara.

Lalu untuk apa saya menuliskan artikel ini? Dengan segala kerendahan hati, tulisan ini sekedar apresiasi saya atas payah jerih para panitia. Mereka adalah orang hebat karena mampu menyelenggarakan acara ini. Saya tahu bagaimana getir-pahit-nya menjadi panitia, karena (dulu) saya pun sering terlibat sebagai panitia, untuk acara-acara yang melibatkan banyak peserta. Hormat saya untuk para panitia.

Foto bersama panitia dan hadirin Kopdar Akbar Guru Blogger Nasional di Gedung Indosat, Minggu (15/3/2015). (foto: umarsyaifullah)

FOTO bersama panitia dan hadirin Kopdar Akbar Guru Blogger Nasional di Gedung Indosat, Minggu (15/3/2015). (foto: umarsyaifullah)

Relevansi

Tak pelak masalah pendidikan memang sangat penting bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Apalagi saat ini dimana bukan saja kita sebagai bangsa, namun bahkan dunia internasional sedang ikut ‘nimbrung’ dalam membenahi sektor pendidikan nasional ini. Hasilnya adalah pernyataan Menteri Pendidikan, Anis Baswedan Kamis (12/3) lalu.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan mengatakan permasalahan utama pendidikan yang harus dibenahi saat ini ada pada guru bukan pada kurikulum. Meskipun kurikulum berubah-ubah dan sampai saat ini telah 10 kali berganti kurikulum, pendidikan tetap mengalami masalah yang sama.

Nah. Masihkah para guru yang profesional ini terus berkutat pada status dan pendapatan sementara kekerasan, kriminalitas, pornografi dan pornoaksi melonjak tajam di kalangan pelajar? 2 tahun lalu KaDisdik Depok menyatakan bahwa 70 persen pelajar di Depok tak hafal Pancasila dan Kamis (19/3) lalu 43 pelajar diamankan Polisi di Sukmajaya, Depok. Tak ada satupun yang hafal Pancasila. Saya yakin akan ada yang menyergah dengan mengatakan bahwa hafal Pancasila bukan merupakan INDIKATOR kepribadian dan kecerdasan. Perkenankan saya mengingatkan pada para pemuja Liberalisme ini bahwa suatu bangunan semegah apa pun, kekuatannya semata bergantung pada FONDASI. Hingga kini, meski UUD 1945 sudah compang camping akibat beberapa kali amandemen, namun DASAR NEGARA masih tetap Pancasila.

MERDEKA! Ampera!

bersambung

 

copyleft umar syaifullah 2015

Iklan

8 pemikiran pada “Absurd, Kopdar Guru – Blogger

  1. Kalo absurd gini, saya biasanya langsung balik (kucing). Lha wong kalo jaraknya Jogja – Jakarta ato Surabaya – Jakarta. Mosok arep balik, Cak. 😀

    Tapi tetep joss ambek laporane. Opo maneh sing pakek membusung-membusung iku. 😀

  2. Ditunggu sambungannya pak umar 🙂

    Salah satu hal yang membuat saya ngga ikut meramaikan, karena merasa acara ini bukan buat saya yang blogger ^^

    Btw seru juga jalan jalannya di car free day *just another absurd of life

  3. saya tidak ikut acara ini, tapi waktu lihat pertama kali posternya, terus pengumuman audience nya di beberapa grup blogger, saya pikir pesertanya adalah guru, terutama guru yang baru mau ngeblog

    hmm kyaknya sudut pandang mas umar ini bagus, kritis nih

  4. wah ternyata ada yang terselubung dalam acara (khusus) itu..

    mungkin ada baiknya setiap pagi sebelum memulai pelajaran pancasila dikumandangkan yaa, untuk mengingat dasar negara ini 😄

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s