[Film] Danny Collins (2015)

Secercah Harapan di Tengah Peradaban Gelembung

Danny1

POSTER resmi. (foto: IMDB)

SUNGGUH beruntung Dan Fogelman. Penulis skenario yang baru menjajal karir sebagai sutradara ini bisa mendapatkan Al Pacino untuk bermain dalam film perdananya. Sebuah film yang mengisahkan pengalaman hidup seorang penyanyi rock dalam berupaya untuk bersatu kembali dengan anak lelakinya yang telah ia tinggalkan. Ini semua disebabkan oleh sepucuk surat dari sang Dewa,  John Lennon yang baru sampai ke tangannya … 40 tahun kemudian.

Pada film-film lalu, Al Pacino hampir selalu mendapat monolog cukup panjang seperti terjadi di Scent of A Woman atau The Devil’s Advocate. Saya menduga bahwa monolog itu adalah upaya Al untuk menempatkan dirinya di antara para bintang lainnya. Sebagai aktor yang terlatih dalam teater, tentu monolog menjadi ajang unjuk giginya. Terbukti ketika ia mendapatkan Oscar melalui Scent of a Woman.

Kali ini Al Pacino melepaskan aura teaternya dan sebagai gantinya memberi pertunjukan yang cair, menghibur, tapi tak luput memberikan kejutan-kejutan kecil di momen-momen yang tepat dalam menjaga irama film. Meski menjadi pemeran utama namun kelihatan ia agak mengurangi “power”nya demi memberi ruang bagi pemeran lainnya mengembangkan akting mereka. Hal ini terlihat dalam interaksinya dengan Jennifer Garner mau pun Bobby Cannavale.

CHEMISTRY yang indah antara Al Pacino dan Annette Bening.  (foto: Video Capture)

CHEMISTRY yang indah antara Al Pacino dan Annette Bening. (foto: Video Capture)

Tapi yang sangat menarik di film ini adalah “chemistry” antara Al dan Annette. Benar-benar Bening. Indah sekali pertunjukan akting antar keduanya. Upaya tak kenal menyerah Danny untuk mengajak Mary makan malam sebanding dengan “keukeuh”nya penolakan Mary namun sambil mengharapkan agar ajakan terus terlontar. Nyaris setiap pembicaraan mereka selalu mampu dibelokkan dengan mulus oleh Danny demi lebih dekat selangkah demi selangkah.

Oh kalian anak muda yang masih jomblo harus belajar dari sini. Bagaimana membangun kesan yang kuat pada lawan jenis. Bukan menyerang, atau sok akrab, apalagi hit and run. Tidak ada hal-hal konyol untuk memancing tawa. Tapi benar-benar membangun suatu atmosfir secara cerdas, halus dan pelahan, mengisolir keduanya dari dunia sekitar hingga yang ada hanya kalian berdua. Sejajar.

Bobby Cannavale sebagai Tom Donnelly tampil sangat bagus. Tanpa berlebihan dan tetap dalam porsinya sebagai pemeran anak Al Pacino, Bobby tampil dalam sosok seorang laki-laki dewasa namun menyimpan kerinduan yang dalam terhadap sosok seorang ayah.

Interaksi

Jika saya boleh mengatakan, film ini bicara tentang “interpersonal skill”. Hubungan antar personal. Sesuatu yang sudah masuk museum di jaman ini. Masa di mana orang butuh peranti gadget untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain. Masa interaksi menjadi kering dan kesan-kesan yang terlontar menjadi sangat artifisial. Era peradaban gelembung. Bubble Culture.

AYAH dan anak, bersatu kembali. (foto: Video Capture)

AYAH dan anak, bersatu kembali. (foto: Video Capture)

Film ini mengajari kita kembali, tingkat kedekatan dan keakraban antar manusia dilihat dari seberapa mampu kita mengeluarkan sisi-sisi terdalam dari pasangan komunikasi kita. Karena orang takkan mengeluarkan emosi dan kenangan terdalamnya jika ia tak merasa nyaman dengan kita.

Dan lagu-lagu sang dewa -John Lennon- sungguh bagai perangkat home theatre yang memperkuat sekaligus membingkai seluruh film dalam nuansa yang menggetarkan. Tidak mudah dan tidak murah untuk memasukkan sebuah lagu popular ke dalam sebuah film. Untunglah sang produser punya akses ke Yoko Ono sehingga tak hanya satu melainkan sembilan lagu John Lennon bisa kita nikmati di sepanjang film ini.

Pendidikan

HOPE menemukan harapannya di bakal sekolah barunya. (foto: Video Capture)

HOPE menemukan harapannya di bakal sekolah barunya. (foto: Video Capture)

This is a school? Begitu teriak si kecil Hope ketika diajak mengunjungi sekolah khusus untuk anak hiperaktif. Sebuah kompleks bangunan yang sama sekali tidak “berbau” sekolah. Lebih cocok menjadi surganya anak-anak yang penuh warna warni. Atau Taman kanak-kanak dalam skala besar dan canggih.

Dr. Ryan Kurtz pengelola sekolah itu mengatakan bahwa umumnya sekolah akan “memaksa” anak-anak masuk dalam sistem yang sudah didesain. Maka di sekolah ini berlaku sebaliknya. Sekolah yang akan menyesuaikan sistem mereka dengan pekembangan dan karakter anak. Haduh, langsung terbit air liur saya. Tapi bahkan di Amerika sana pun, sekolah macam ini masih sangat eksklusif dan boleh dikata masih dalam tahap percontohan.

Terus terang saya pun bermimpi adanya sekolah seperti ini untuk anak-anak Indonesia. Sebuah sekolah yang benar-benar menempatkan peserta didiknya sebagai subjek serta menumbuhkembangkan mereka berdasarkan minat, bakat dan karakter mereka sendiri. Sebuah institusi yang dijalankan oleh orang-orang yang menganggap peserta didik adalah anak-anak mereka sendiri sehingga selalu mengupayakan yang terbaik bagi mereka. Guru-guru yang memang memiliki panggilan jiwa untuk mendidik dengan rasa kasih sayang yang penuh, bukan guru yang terpanggil oleh nominal gaji, tunjangan sertifikasi, TKD dan gaji ke 13.

Meski saat ini UU Pendidikan Nasional sudah menyebutkan peserta didik sebagai subjek, namun segala sarana dan prasarana serta sistem yang dijalankan masih jauh panggang dari api. Namun tak bolehkah kita bermimpi akan pendidikan yang lebih baik dan terjangkau oleh masyarakat kebanyakan. Apakah Anda juga punya mimpi yang sama? Atau kita hanya bermimpi di siang bolong?

Untuk itu lebih baik kita ikuti saja ‘mantra’ Tom Donelly berikut:

Your favorite flower is a …                                                                                                        Rose

Rekomendasi: 4/5

copyleft umar syaifullah 2015

Iklan

5 pemikiran pada “[Film] Danny Collins (2015)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s