Menonton [Film] Little Big Master (2015) bersama Celestial Movies

Pendidikan adalah Tumbuh-kembangnya Kehidupan

POSTER Resmi

LIMA siswi Taman Kanak-Kanak tampil di acara wisuda sekaligus pesta perpisahan sekolah. Mereka menari. Seorang di antaranya berkata, “Kami menahan airmata kami agar dapat menampilkan pertunjukan ini”.


Ya. Perpisahan. Karena itu adalah hari terakhir penerimaan siswa baru TK di desa Yuen Long dan tak seorang pun yang mendaftar. Komite sekolah telah membuat keputusan untuk menutup sekolah yang berdiri sejak 1950 itu karena kekurangan siswa dan guru. Satu-satunya yang mati-matian mempertahankan adalah Kepala Sekolah, merangkap guru, merangkap tukang bersih-bersih. Sementara ia sendiri didera tumor kelenjar tiroid yang merongrong kesehatannya.

Perempuan itu bernama Lui Wai Hung, bekas Kepala Sekolah di sebuah TK elit yang mengundurkan diri karena tak bisa
mengorbankan anak didiknya yang dipaksa mengikuti kelas akselerasi demi ambisi orangtuanya. Suaminya Dong, adalah kurator sebuah museum yang juga akan mengundurkan diri karena anggaran museum dialihkan untuk perangkat teknologi canggih.

PADUAN Yin dan Yang yang sempurna. Foto: Celestial Movies.

PADUAN Yin dan Yang yang sempurna. Foto: Celestial Movies/I Love HK Movies

Lelaki dengan pikirannya. Perempuan dengan perasaannya. Wai Hung yang semula ingin pesiar keliling dunia bersama sang suami, tiba-tiba membatalkan rencananya begitu melihat berita di televisi tentang sebuah TK yang terancam akan ditutup karena muridnya tinggal 5 orang. Semua guru dan Kepala Sekolah pun sudah mengundurkan diri dan pindah ke tempat lain. Kelima siswa ini tak dapat pindah sekolah karena orangtua mereka tak mampu membayar biaya pendidikan yang semakin tinggi. Wai Hung tak peduli ia hanya dibayar begitu rendah, jauh di bawah penghasilan terakhirnya, semata karena panggilan jiwanya untuk menyelamatkan pendidikan kelima anak itu.

Kasih sayang sebagai suami membuat Dong turut membantu istrinya menyapu dan membersihkan sekolah yang kumuh itu. Namun ketika 4 bulan berlalu, istrinya malah makin kukuh mempertahankan keberlangsungan sekolah itu. Dong yang sudah merancang segala sesuatunya kecewa karena rencana pelesir itu adalah untuk menghibur istrinya yang telah membaktikan hidupnya dalam pendidikan usia dini selama 20 tahun lebih. Toh ketika dirinya menghadapi situasi serupa di museum, menyadarkan Dong bahwa ada sebuah keyakinan yang harus diperjuangkan.

Siu-Suet, anak seorang pemulung besi tua yang telah lama ditinggal istri ke Cina daratan. Ka-Ka, adalah yatim piatu yang tinggal dalam asuhan bibinya yang bekerja di rumah makan. Kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan saat badai. Chu-Chu, punya orangtua yang lengkap, namun ayahnya cacat kaki. Sementara rumah gubuk mereka terancam digusur oleh Pengembang. Dua terakhir adalah kakak beradik asal Pakistan, Kitty dan Jennie Fathima. Ibu dan ayahnya pencuci taoge. Mereka semula menutup diri karena malu sebagai orang tak punya, namun kedatangan Kepala Sekolah baru memberi mereka sebuah harapan dan bukan hanya mimpi.

Siu-suet (Winnie Ho Yuen-ying) bersama ayahnya yang pemul;ung besi tua (Richard Ng Yiu-hon). Foto: IMDB)

SIU-suet (Winnie Ho Yuen-ying) bersama ayahnya yang pemulung besi tua (Richard Ng Yiu-hon). Foto: IMDB

 

Mimpi

Seringkali kerasnya hidup membuat orang mengubur dalam-dalam segala mimpinya. Kesibukan berakrobat dengan waktu dan pekerjaan membuat orang tak sempat bermimpi. Dan lihatlah. Betapa sederhana dan absurdnya mimpi orang kecil dan anak-anak itu.

Di saat segalanya begitu hambar dan tanpa harapan, mimpi menjadi sebuah kekuatan untuk membangkitkan semangat. Pada gilirannya semangat yang benar akan membentuk menjadi keyakinan kuat untuk meraih apa yang diharapkan.

Situs Variety membandingkan film ini dengan Laskar Pelangi. Namun bagi saya Little Big Master lebih berhasil menguras emosi penonton karena pemeran-pemeran cilik yang luar biasa. Tak percuma sutradara Adrian Kwan Shun-fai menggandeng Hannah Chang/Cheung Pui-king, seorang konselor psikiatri sebagai penulis skenario.

Film ini aslinya berjudul Wu ge xiao hai de xiao zhang yang artinya Kepala Sekolah dengan 5 murid. Mulai ditayangkan di Hong Kong 19 Maret 2015 dan sukses meraih Box Office. Film dengan durasi 112 menit ini telah tayang di Indonesia pada tanggal 29 Juli 2015 di jaringan bioskop Cinemaxx Theater, Blitzmegaplex, dan juga Platinum. Saluran Celestial Movies telah memungkinkan kita menonton ulang film-film Asia berkualitas semacam ini, #ilovehkmovies.


“Terasa sedih untuk meninggalkannya
Aku akan merindukan guru dalam hidupku
Kami mengucapkan selamat tinggal dan selamat berpisah
Masih teringat kenakalan yang kami lakukan

Gadis kecil telah tumbuh dan akan meninggalkan semuanya
Berusaha untuk menjalani kehidupan yang lebih baik
Kau adalah cahaya penuntun
Kau akan bertemu dengan siswa kemanapun kau pergi

Aku sungguh berharap yang terbaik
Semoga angin membawamu kemana yang kau inginkan
Mari kita berjabat tangan sekarang
Bernyanyi keras di sekolah tercinta

Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi esok
Melangkah cepat, bertindak ambisius
Melepaskan tangan kalian sekarang
Kapan dan dimana kita kan berjabat tangan lagi?”


Lima siswi Taman Kanak-Kanak tampil di acara wisuda sekaligus pesta perpisahan sekolah. Mereka menari. Salah seorang dari kelima siswi itu akan diwisuda. Namanya Lo Ka Ka. Ia berkata,

“Kepala Sekolah bolehkah kami menangis sekarang?”

 

*Untuk istriku, seorang guru.

Xie xie.

Rekomendasi: 4/5

copyleft umar syaifullah 2015

 

Iklan

8 pemikiran pada “Menonton [Film] Little Big Master (2015) bersama Celestial Movies

    • Film kita bukan gak ada yg bagus. Tapi sebuah karya seni adalah cermin suatu peradaban masyarakat pada suatu kurun. Bandingkan dg film di masa awal kemerdekaan, Orde Baru. Masing-masing punya ‘aura’ masa yg berbeda.

      • o bukan gitu masudnya..film Indonesia ada yang bagus..hanya sebagian lebih dari pelaku film, mnrt sy perlu banyak belajar. bikin film itu ngak mudah, tapi mungkin sekali film Indonesia jadi rangking dan bersaing kece di dunia luar..ini bukan bicara soal festival film pendek loh ya…setiap masa memiliki auranya berbeda memang..sy ini pecinta film Mas..sy pun pernah menjadi crew film, dan saya tidak mematahkan semangat mereka loh…boleh dunk sy mengutarakan pendapat soal kualitas film Indonesia yang beredar sekarang ini…

      • Ya bolehlah 😀 masak ga boleh. Justru komentar yang beda itu memberi perspektif yang lebih luas buat pembaca. Kalau cuma dukung mendukung, yang menang ya tirani mayoritas. Faham kan?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s